Kamis, 17 Februari 2011

Kenapa Sering Terjadi Perbedaan Awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri Dan Idul Adha

Kamis, 17 Februari 2011 | 1 komentar
Dalam sepuluh tahun terakhir ini sering kita temui perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, fenomena ini menimbulkan kebingungan, kegelisahan, kekhawatiran dan perdebatan yang hangat bagi sebagian masyarakat kita karena perbedaan ini melibatkan salah satu organisasi tertua dan terbesar dinegeri ini yaitu Muhammadiyah dengan NU dan Pemerintah.
Pada tahun ini perbedaan itu kembali terjadi dalam penetapan 10 Zulhijjah atau Hari Raya Idul Adha, Muhammadiyah jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa 10 Zulhijjah 1431H jatuh pada tanggal 16 November 2010 sementara pemerintah setelah MUI melakukan sidang Isbath, pada hari Selasa tanggal 7 November 2010 mengumumkan melalui media bahwa pemerintah menetapkan 10 Zulhijjah 1431H jatuh pada tanggal 17 November 2010.
Setelah pemerintah menetapkan 10 Zulhijjah 1431H jatuh pada tanggal 17 November 2010 melalui media massa pada tanggal 7 November 2010 pukul 10.39 WIB sebuah sms masuk ke hp saya yang berbunyi: “Bismillahirrahmanirrahim! Ustaz, kenapa Muhammadiyah berpegang pada Hisab Wujudul Hilal padahal tidak sesuai dengan wahyu. Abu Umar Abdillah mengatakan wahyu harus mengatur sciens jangan dibalik durhaka. Semoga anggota Muhammadiyah tidak taqlid kepada hisab yang tidak sesuai wahyu. Allah MURKA!!!” diakhir sms nya beliau menyebutkan gelarnya Dr beserta namanya (sengaja tidak saya sebutkan namanya) beliau berasal dari Medan katanya”. Waktu istirahat setelah sholat Zhuhur saya membalas smsnya dengan menyebutkan beberapa ayat al- Qur’an yang berbicara tentang hisab, setelah itu beliau membalas “Al-Qur’an keterangannya mujmal karena itu diperjelas oleh sunnah Rasul yang mulia itu. Tanpa sunnah terjebak INKAR SUNNAH” setelah membaca balasan sms nya itu saya terfikir untuk menjawab persoalan ini melalui tulisan saja karena kalau saya balas via sms akan sulit untuk difahami, tidak efektif dan hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak berujung, yang pada akhirnya bisa menimbulkan salah pengertian, walaupun karena penasarannya beliau sampai 4x mengirimkan smsnya yang kedua itu kepada saya namun saya tetap tidak menjawabnya.
Melalui tulisan ini saya akan coba untuk menjelaskan kenapa dalam 10 tahun terakhir ini sering terjadi perbedaan dalam menetapkan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Metode dalam penentuan awal bulan hijriyah, khususnya pada tiga bulan yang berhubungan dengan ibadah umat Islam, yaitu Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, sampai batas tertentu adalah cerminan dari wajah fikih Islam yang plural. Metode yang digunakan dalam menetapkan awal bulan hijriyah ada dua yaitu metode atau sistem Rukyah bil Fi’li dan metode atau sistem Hisab. Metode atau sistem hisab terbagi pula menjadi pertama Hisab Urfi yaitu sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara kovensional yaitu secara selang seling 30 hari (bulan gasal) dan 29 hari (bulan genap). Kedua Hisab Hakiki, sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya. Jumlah hari setiap bulan tidak tetap (tidak harus selang-seling).
Hisab Hakiki juga memiliki beberapa aliran yaitu:
1. Ijtima’ qabla ghurub ini dipakai oleh Muhammadiyah
2. Ijtima’ qabla fajri dipakai oleh Arab Saudi
3. Posisi hilal diatas ufuk hakiki dipakai oleh Muhammadiyah
4. Posisi hilal diatas ufuk hissi
5. Posisi hilal diatas ufuk mar’i dipakai oleh NU
6. Posisi hilal yang mungkin dapat di rukyah (Imaknur rukyah) ini yang dipakai oleh MABIMS
Karena perbedaan dalam aliran hisab inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Muhammadiyah pada Munas Tarjih tahun 2000 di Jakarta munculkan kecendrungan yang lebih mengakomodir hisab secara lebih jauh sehingga lahirlah keputusan tarjih yang meletakkan hisab sejajar dengan rukyah. Muhammadiyah dengan semangat pembaharuan (tajdid) nya meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah salah satu wasîlah yang bisa digunakan untuk beribadah, sehingga dimensi normatif dari nash-nash al-Quran bisa selalu dikaitkan dengan dimensi ideal peradaban manusia. Sistem Hisab Hakiki sesuai dalil al-Qur’an surat al-Rahman ayat 5 disebutkan: al-Syamsu wal Qamaru bi husbân (matahari dan bulan bisa dihitung). Ayat ini bukan hanya pernyataan deklaratif saja (khabar), karena tanpa keterangan ilahi pun manusia akan tahu bahwa kedua benda langit itu bisa dihisab. Ayat ini mengandung pesan imperatif (thalab insyai) bahwa hendaknya posisi bulan dan matahari dihitung dan hendaknya hasil perhitungan itu dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam berakifitas. Jika kita membaca pesan-pesan al-Quran dengan seksama, terdapat banyak ayat yang berisi penekanan arti penting pengorganisasian waktu secara keseluruhanan. Dan dalam ayat lain surat al-Anam ayat 96 disebutkan; Fâliqu'l isbâhi wa ja'alal layla sakanaw was syams wal-qamara husbâna, dzâlika taqdîru'l azîzil 'alîm artinya Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Aliran Hisab Hakiki yang dipakai oleh Muhammadiyah adalah hitungan yang berdasarkan kepada peredaran bulan dan bumi yang sebenar-benarnya dan setepat-tepatnya dengan prinsip jika pada tanggal 29 dalam penanggalan hijriyah atau hari terjadinya
1. Ijtimak/konjungsi qabla ghurub (setelah matahari tenggelam)
2. Bulan terbenam setelah matahari maka keesokan harinya telah dinyatakan sebagai awal bulan hijriyah
3. Posisi hilal diatas ufuk hakiki (plus)

Sementara aliran hisab yang pakai oleh MABIMS adalah Posisi hilal yang mungkin dapat di rukyah (Imaknur rukyah) adalah tinggi bulan minimum 2 derajat saat maghrib menurut para ahli hilal hanya dapat dilihat dengan menggunakan teropong bintang bukan dengan mata telanjang, jarak bulan-matahari minimum 3 derajat, saat maghrib dan umur bulan saat maghrib minimal 8 jam lepas ijtimak.

Sementara Posisi hilal diatas ufuk mar’i yang dipakai oleh NU hanya dapat terlihat jika jarak sudut bulan – matahari sebesar tujuh derajat.

Kesimpulannya, apabila hilal berada pada posisi diatas nol (0) derajat dan dibawah 2 derajat, maka akan terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dan NU baik itu dalam penetapan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah kita mengetahui dimana letak perbedaannya, kita boleh memilih mana yang kita yakini paling benar tetapi jangan pula kita mengatakan yg lain salah, tidak memiliki dalil yang kuat, berlawanan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Karena perbedaan dalam hal hilal ini bukanlah mengenai benar atau salah tapi mengenai mana yang paling akurat dan paling benar. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan oleh karena itu mari kita sikapi perbedaan ini dengan arif dan bijaksana agar apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa perbedaan itu adalah rahmah dapat kita wujudkan

read more

Sabtu, 14 Agustus 2010

HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR RAMADHAN

Sabtu, 14 Agustus 2010 | 0 komentar
Sebentar lagi kita akan menginjak bulan Ramadhan. Sudah saatnya kita mempersiapkan ilmu untuk menyongsong bulan agung tersebut karena bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan bulan ini dipilih Allah sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Bulan Ramadhan adalah hiburan bagi setiap orang yang berdosa, peringatan bagi orang yang lupa, pendidikan bagi orang yang jahil, pemberi semangat bagi setiap orang yang beramal karena padanya dibuka pintu-pintu surga, dilipat gandakan pahala dan ibadah. Maka padanya, Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni darinya dosanya yang terdahulu.

Karena motivasi ini, tidak heran kalau kita melihat orang berlomba-lomba beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Namun, karena semangat yang tinggi, tapi tidak disertai cukup ilmu, sering orang tidak lagi selektif terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan amalan Ramadhan. Tanpa disadari sebagian yang diamalkan dan diyakini ada hadis-hadis palsu. Sebagian lain sanadnya sangat lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Oleh sebab itu, sangat penting untuk diketahui hadis-hadis populer yang palsu dan lemah tersebut.



Hadis Seluruh Bulan adalah Ramadhan

لَوْ يَعْلَمُ اْلعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتيِ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضاَنُ السَّنَةَ كُلَّهَا، إِنّ اْلجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ اْلحَوْلِ إِلىَ اْلحَوْلِ ...

“Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya….” Hadis ini panjang.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhû’ât (Kitab tentang Hadis-Hadis palsu, 2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul Âliyah (Bab A-B/manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al-Ghifari. Hadis ini Maudhû’ (palsu), atau setidaknya matruk (semi palsu) karena cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata, “Terkenal dengan kelemahan (dha’if)” beliau juga menukil ucapan Abu Nu’aim tentangnya, “Dia itu suka memalsukan hadis.” Al-Bukhari juga berkata, “Hadisnya tertolak”, dan menurut an-Nasai, “Matrûk” (ditinggalkan/tidak dipakai hadisnya).” Pada matan hadis tersebut juga terdapat tanda-tanda kepalsuan.



Hadis Ramadhan Rahmat, Maghfirah, dan Bebas dari Api Neraka



يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ الله ُصِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَتِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ... وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ...



“Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/bebas dari neraka..” sampai selesai.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al-Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil Fi Dhu’afa (6/512), Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115). Hadis ini di dhaifkan oleh pakar hadis seperti Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib, bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Razi dalam Al-‘Ilal (2/50) juga oleh Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah (871) bahwa hadis ini munkar. Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan di dalam Sifatu Shaumin-Nabi (110) dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadis itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Menurut murid ahli hadis ini, hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga, (no. 1887), dan Al-Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At-Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman. Hadis ini, menurut dua murid ulama Hadis tersebut, sanadnya Dhaif (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid. Ibnu Sa’ad berkata, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “Lemah di segala segi”, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Jangan berhujjah dengan Hadis ini karena jelek hafalannya.” Demikianlah pernyataannya di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323).

Yang benar adalah bahwa seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmat, ampunan dan kesempatan untuk terbebas dari api neraka tanpa ada pengelompokan di sepuluh awal, pertengahan dan akhir, ini sesuai dengan hadis shahih yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim. “Orang yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (HR. Bukhari no.38, Muslim no. 760)



Hadis Berpuasa Akan Sehat

صُوْمُوْا تًصِحُّوْا

“Berpuasalah maka kamu sekalian sehat.”

Hadis tersebut merupakan potongan dari Hadis riwayat Ibnu Adi di dalam al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta, sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam al-Ausath (1/Q, 69/ al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Na’im di dalam ath-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abi Hurairah. Sanadnya dha’if (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah SAW, hal. 84). Sebagian pendapat mengatkan bahwa ucapan ini terdapat pada kitab Al-Rahmah fi Al-Tibb wa Al-Hikmah, karya Imam Al-Suyuti. Ternyata ucapan ini bukanlah hadis melainkan perkataan seorang dokter dari Sudan yang meneliti bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh jadi pernyataan ini tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.



Hadis Meninggalkan Puasa tanpa Alasan



مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَمْ يَقْضِهِ وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal dia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al-’Ilal Al-Kabir (116), oleh Abu Daud di dalam Sunan-nya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di dalam Al-Mughni (4/367), Ad-Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al-Baihaqi di Sunan-nya (4/228).

Hadis ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al-Muhalla (6/183), Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/173), juga oleh Al-Albani di Dhaif At-Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al-Jami’ (5462) dan Silsilah Adh-Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan Hadis ini seperti Abu Hatim Ar-Razi di Al-Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al-Haitsami di Majma’ Az-Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i, ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)



Hadis Tidurnya Orang Puasa

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ



“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

Riwayat lain menyebutkan:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan dan amalannya pun dilipatgandakan pahalanya”.



Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di Su’abul Iman (3/1437). Hadis ini dho’if sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Takhrijul-Ihya (1/310). Albani juga mendha’ifkan hadis ini dalam Silsilah Ad-Dha’ifah (4696)

Hadis ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja. Bahkan barangkali karenanya, shalat lima waktu ada yang bolong padahal kualitas hadis ini adalah dha’if (lemah). Hadis tersebut disebutkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir, riwayat Ad-Dailamy di dalam Musnad Al-Firdaus dari Anas. Imam Al-Manawy memberikan komentar dengan ucapannya, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya Adh-Dhu’afa, Ibnu ‘Ady berkata, “(Dia) termasuk orang yang suka memalsukan Hadis.” Menurut Syaikh Al-Albany, hadis ini ada pada riwayat yang lain tanpa periwayat tersebut sehingga dengan demikian, hadis ini bisa terselamatkan dari status maudlû’ (palsu), tetapi tetap dha’if. Syaikh Al-Albani juga menyebutkan bahwa Abdullah bin Ahmad di dalam kitabnya Zawa’id Az-Zuhd, hal. 303 meriwayatkan hadis tersebut dari ucapan Abi Al-’Aliyah secara mauquf dengan tambahan: “Selama dia tidak menggunjing/ghibah.” Dan sanad yang satu ini adalah shahih, barangkali inilah asal hadis. Ia mauqûf (yaitu hadis yang hanya diriwayatkan oleh shahabat atau tabi’in) lantas sebagian periwayat yang lemah keliru dengan menjadikannya marfû’ (hadis yang sampai kepada Rasulullah). (Silsilah al-AHadis adl-Dloifah wa al-Maudlu’ah, Jld. II, karya Syaikh Al-Albany, no. 653, hal. 106).

Yang benar adalah bahwa tidur itu adalah perkara mubah (boleh) bukan ritual ibadah jadi sebagaimana perkara mubah yang lainnya, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah seperti tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya atau tidur guna mengistirahatkan tubuh agar lebih fit dalam beribadah. Semoga dengan penjelasan ini kita lebih berhati-hati di dalam menyaring hadis yang berkembang dan beredar di sekitar kita, dengan menyikapinya secara kritis dan bertanya tentang kualitasnya bilamana ragu untuk mengamalkannya.



Hadis Ibadah Ramadhan tergantung Zakat Fitrah



أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُتَعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

“Ibadah bulan Ramadhan tergantung di antara langit dan bumi. Tidak diangkat kepada Allah kecuali zakat fithri.” (HR. Al-Dhiyah).

Di dalam hadis ini terdapat perawi yang tidak diketahui kualitasnya, yaitu Muhammad bin ‘Ubayd Al-Bashri. Hadis ini oleh disebukan oleh Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib (2/157). Al Albani mendha’ifkan hadis ini dalam Dha’if At-Targhib (664). Hadis ini disebutkan oleh Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib (2/157). Al-Albani mendhaifkan hadis ini dalam Dhaif At-Targhib (664), dan Silsilah Ahadis Dhaifah (43).

Yang benar, jika dari hadis ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri. Keyakinan ini salah, karena hadisnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.



Hadis Lima Hal yang Membatalkan Puasa



خَمْسٌ تُفْطِرُ الصَّائِمَ ، وَتُنْقِضُ الْوُضُوْءَ : اَلْكَذِبُ، وَالْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالنَّظْرُ بِالشَّهْوَةِ، وَالْيَمِيْنُ الْفَاجِرَةُ



“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Jauraqani di dalam Al-Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at (1131). Hadis ini adalah hadis palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhû’at (1131), Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhâ’ifah (1708). Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadis: “Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057).



Hadis tentang Jihad Besar



رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ . قَالُوا : وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ؟ قًالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ

“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”

Menurut Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6), hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Kuna. Hadis ini adalah hadis palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al-Mulla Ali Al Qari dalam Al-Asrar Al Marfu’ah (211). Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah (2460) mengatakan hadis ini munkar. Hadis ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadis ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama Hadis yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari Hadis palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.



Hadis Ramadhan Bulan Umat Islam



رَجَبُ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي



“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy-Syuyûkh (1/186). Hadis ini didhaifkan oleh di Asy-Syaukani di Nailul Authâr (4/334), dan Al-Albani di Silsilah Adh-Dhaifah (4400). Bahkan Hadis ini dikatakan hadis palsu oleh banyak ulama seperti Adz-Dzahabi di Tartibul Maudhû’at (162, 183), Ash-Shaghani dalam Al-Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al-Manarul Munif (76), Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).

***

Inilah sebagian di antara hadis-hadis palsu dan lemah yang berkaitan dengan Ramadhan. Setelah mengetahui kualitas hadis ini mungkin sebagian kita jadi ragu dan bertanya-tanya kenapa muncul hadis maudhû’ apa tujuannya dan apa ciri-ciri umum dari hadis maudhû’ itu, maka sebagai penutup tulisan dalam edisi ini akan kita secara umum sebab munculnya hadis maudhû’, tujuan, dan ciri-cirinya.

Walaupun hadis mempunyai fungsi dan kedudukan yang besar sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an, namun sebagaimana telah disebutkan bahwa hadis pada awal Islam tidak ditulis secara resmi sebagaimana Al-Qur’an, kecuali penulisan-penulisan yang bersifat pribadi. Upaya penulisan resmi baru terlaksana pada masa khalifah Umar Ibn Abdul Aziz (abad kedua Hijriyah) melalui perintahnya kepada gubernur dan para ulama.

Kesenjangan waktu antara sepeninggal rasulullah dengan waktu pembukuan hadis yang hampir satu abad menjadi kesempatan bagi orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan pemalsuan hadis baik untuk tujuan yanng menurut mereka bersifat konstruktif (dengan tujuan meningkatkan kegiatan ibadah serta amal-amal lainnya) maupun yang destruktif (yang sengaja untuk mengaburkan dan menodai ajaran) dengan mengatasnamakan Rasulullah, padahal beliau tidak pernah mengatakan atau melakukannya.

Beberapa faktor pendorong yang menyebabkan orang membuat hadis palsu antara lain: keinginan melemahkan Islam dari dalam seperti yang dilakukan oleh golongan zindiq, kepentingan politik tertentu, mendukung aliran-aliran dalam ushul ad-din, kebingungan yang dialami oleh kalangan ahli tasawuf mendekatkan diri kepada Allah secara berlebih-lebihan, menjilat atau mencari muka kepada penguasa, semata-mata untuk memuaskan nafsu, dan kesenangan pribadinya, gejala linglung pada usia lanjut, dan karena untuk memikat orang-orang agar terrtarik kepada nasehat-nasehatnya.

Adapun ciri-ciri hadis maudhu’ secara umum adalah: makna atau lafaznya rusak (rakakah), matannya (kandungan/isi hadis) bertentangan dengan akal sehat, matannya bertentangan dengan Al-Qur’an, hadis mutawatir, dan hadis shahih serta hal-hal yang mudah dipahami dalam agama. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil, perawinya dikenal sebagai orang pendusta dan hadis yang diriwayatkan tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang terpercaya.



Rasul Karim

(Alumni Jurusan Tafsir Hadis UIN Jakarta)

read more

Senin, 03 Mei 2010

Tekanan Jiwa (stres) dan Terapi Islami

Senin, 03 Mei 2010 | 7 komentar
Prof. Dr.Falih bin Muhammad As-Shaghir

Pendahuluan:

Kehidupan Manusia di masa lalu relatif stabil. Ketenangan adalah keseharian dalam mayoritas kehidupan mereka karena minimnya faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan ketika itu.

- Tanggung jawab yang ditanggung ketika itu belum mengacaukan pikiran atau mempengaruhi aktivitasnya yang sederhana di perkebunan, rumah produksi atau di tempat perniagaan.

- Krisis kependudukan dan kemanusiaan ketika itu belum seperti keadaannya yang sekarang, di mana realita memaksa manusia menggunakan pola baru dalam berinteraksi dan memikul tanggung jawab.

- Rumah hunian dan perabotannya tidaklah seperti sekarang yang menghimpit, di mana sebagiannya bertumpuk dengan sebagian yang lain. Sebagaimana kondisi yang ada dibanyak negara di dunia.

- Bahkan musibah yang menimpa manusia belumlah sehebat dan sedahsyat sekarang ini. Penyakit ketika itu belum lagi sekomplek dan dengan nama yang beraneka macam, yang menghantui manusia dan mengganggu kehidupannya, yang menjadikannya dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan, seiring lambatnya ditemukan obat penawarnya.

- Ketika itu peperangan tidak dapat membunuh ribuan manusia dalam waktu sekejap, sebagaimana teknologi dan instrumen perang yang ada seperti sekarang ini.

- Belum ada kejadian yang menelan korban mengerikan akibat kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, air atau alat transportasi lain ketika itu.

- Dan di atas semua itu, krisis keuangan dan ekonomi membatasi manusia dan membalikkan keadaan berbagai umat dan bangsa dari kenikmatan dan kemewahan menjadi terpuruk dalam kefakiran dan kekurangan.

Serta perkara-perkara lain dari perubahan-perubahan, halangan-halangan dan problem yang berdampak negatif pada kehidupan manusia, yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan dan kekuatan potensialnya.

Itu artinya bahwa kemajuan teknologi yang disaksikan oleh dunia dan banyak berperan dalam memfasilitasi manusia, pada waktu yang sama justru memberatkan manusia itu sendiri dengan lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang menyedot umur dan waktu mereka. Bahkan tak jarang datang bertubi-tubi sehingga tidak sanggup menghadapinya atau menyerah karena kontinuitasnya.

Dari sinilah mulai muncul tekanan kejiwaan (stres): yang berwujud pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan atau memikul tanggung jawab yang sebenarnya terfasilitasi dan memiliki kemungkinan yang terbuka.

Dampak Stress (Tekanan Jiwa)

Sesungguhnya stres pada banyak keadaan menyebabkan penderitanya tidak stabil, yang pada akhirnya memunculkan dampak dan efek negatif dalam kehidupan dan pergaulannya. Di antara dampak yang terpenting adalah:

1. Ada kalanya stres pada penderitanya melahirkan semacam prilaku kasar, keradikalan, kemarahan akan realita dan melihatnya dengan gelap mata. Ia berharap dapat keluar dari permasalahannya dan terkurangi tanggung jawabnya. Akan lebih parah jika tidak ada pendampingan yang dapat mengurangi sebagian beban dan kepedihannya.

2. Stres menyebabkan menarik diri dan menjauh dari kehidupan, menjauh dari kenyataan, bahkan menjadikan penderitanya tenggelam dalam dunia khayal, terkendala dalam metode berpikir dan mencari solusi. Engkau dapati ia mendebat perkara dengan solusi filosofis yang rumit atau penafsiran yang ganjil yang tidak diterima oleh para pemikir dan orang kebanyakan.

3. Tekanan jiwa mempengaruhi dalam bergaul dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan mereka. Dimana penderita tekanan jiwa akan sulit membangun hubungan dalam bertetangga, persahabatan dengan teman kerjanya, atau dengan siswa lain jika itu di sekolah, dengan orang banyak jika dia seorang pegawai, dengan para pegawai jika dia seorang kepala bagian atau direktur, juga dengan seluruh strata masyarakat di lingkungannya. Ia merupakan ancaman dalam membangun masyarakat, kepribadian dan lembaga sosial yang lebih maju, meningkat dan mumpuni.

4. Stres (tekanan jiwa) memiliki pengaruh yang besar pada anggota tubuh penderita. Penyakit yang di derita kebanyakannya adalah cerminan dari hakikat kondisi kejiwaan yang tengah dialami penderita. Karenanya para dokter menyarankan pasiennya untuk menjauhi hal-hal yang menimbulkan gejolak kejiwaan. Terutama mereka yang terkena liver, gangguan jiwa, kolesterol, gangguan lambung, usus dan lain sebagainya. Karena kejiwaan memiliki peran yang penting dalam mengontrol penyakit-penyakit tersebut, baik dalam penyembuhan atau dalam memperburuk dan membuatnya semakin parah.

5. Stres (tekanan jiwa) berpengaruh negatif dalam produktivitas kerja dan kreasi. Karena penderitanya kehilangan penyelaras dalam berinteraksi dengan berbagai hal. Buyar kekuatan dan kemampuan. Terlebih lagi tidak dapat konsekuen dalam mencapai tujuan dan mencapai target.

Obat Stres (Tekanan Jiwa)

Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:

1- Bertakwa kepada Allah I dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal saleh. Firman-Nya I:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Thalaq: 2 )

Dan firman-Nya :

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah I telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah I. Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah I.

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Karena dua hal ini dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153 )

Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah t berkata, “Jika Nabi r menghadapi perkara pelik, beliau melaksanakan shalat.” [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah I. Sadarilah bahwa Allah sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan solusi dan kemudahan. Allah I berfirman melalui lisan Nabi Ya’kub u:

“…Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87 )

Nabi r bersabda dalam hadits Qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِيْ بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Sesungguhnya Allah r berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”

[HR.Turmudzi]

Benarlah perkataan seorang penyair:

Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya

Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan dan amal merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah :

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.Ar-Ro’d:28)

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah). Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana, menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda Rasulullah r,

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan.”

[HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan. Hal ini sebagaimana hadits Abu Sa’id al-Khudri t:

“Pada suatu hari Rasulullah r masuk masjid. Beliau mendapati seorang lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,

“Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid melainkan sedang shalat.”

“Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah.” Jawabnya.

“Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!” Tawar Rasulullah.

“Tentu wahai Rasulullah!” Jawab lelaki itu.

“Bacalah ketika pagi dan petang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

[ Allahumma Inni A'ûdzubika minalhammi walhazan wa a'ûdzubika minal'ajzi walkasal, wa a'ûdzubika minaljubni walbukhl, wa a'ûdzubika min ghalabatiddaini wa qohril rijal ]

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan penindasan orang.”

[HR.Abu Dawud]

Di antara doa Nabi Musa u kepada Allah agar dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah I melalui lisan Nabinya:

“Musa berkata: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.”

(QS.Thâhâ:25-26)

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam kehidupan lalu bertawakal kepada Allah I. Meminta kepada-Nya agar dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan efek negatif yang ditimbulkannya. Allah I berfirman,

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq: 3 )

Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa atau selain mereka. Terkadang keadaan seseorang terasa begitu menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka cercahan cahaya dengan izin Allah.

Ringkas pembicaraan:

Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal tangannya sendiri.

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imrah: 182 )

Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya. Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta angan-angannya.

Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan pusat-pusat pendidikan.

Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah I dan dapat merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi, juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan kesuksesan.

Sumber asli: الضغوط النفسية

abuabdurrahman.com


read more

Selasa, 27 April 2010

Jangan Cepat Takut dan Khawatir

Selasa, 27 April 2010 | 0 komentar
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?” “Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan. “Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam Rata Penuhharus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Jangan takut. Takut adalah hal paling berbahaya di dunia (Hugh Walpole) kalimat ini adalah pelajaran pertama yang perlu kita ambil dari kisah sederhana yang penuh hikmah, karena rasa takut itu jam hampir saja tidak bisa mengeluarkan potensi yg ada pada dirinya karena membayangkan sesuatu yang besar, ini lah yang sering terjadi dalam kehidupan kita, kita sering enggan melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan yang disebabkan oleh karena kita sering mendramatisi keadaan dan membangun kekhawatiran yg berlebihan sehingga kita menjadi pakar dalam mempersulit kehidupan kita sendiri.
Apa yang sulit? Karena “waktu sulit tidak berkepanjangan tetapi manusia tabah tetap kekal” ini adalah salah satu pesan dari Dr. Robert Schuller yang perlu kita jadikan sebagai motivasi dalam hidup ini karena salah satu aspek yang paling penting dan mudah dalam belajar untuk menghadapi apa yang mungkin terjadi sekarang, daripada khawatir terhadap apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Sebagian kita lebih banyak menghabiskan waktu memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang dan bahkan sering sekali kita lupa untuk memikirkan waktu sekarang. Ini adalah satu yang hal yang memalukan karena masa lalu tidak bisa diubah dan masa depan tidak bisa kita ketahui masa sekarang inilah yang kita punya. Pesannya lakukanlah apa yang bisa dan mesti kita lakukan walaupun itu kecil dan sederhana teruskan dengan pertanyaan “apa lagi??” setelah itu betapa luar biasanya hasil dari usaha kita.
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil
Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya.
Ambil Peluang dan raih impian Anda lebih cepat....!!!
(berbagai sumber)

read more

Jumat, 23 April 2010

Semoga Menjadi Pencerahan…….

Jumat, 23 April 2010 | 0 komentar
Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allahberupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.

Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana

kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.

Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan
beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata,"Silahkan!"

Sang pendeta pun mulai bertanya,

1. Sebutkan satu yang tiada duanya,

2. dua yang tiada tiganya,

3. tiga yang tiada empatnya,

4. empat yang tiada limanya,

5. lima yang tiada enamnya,

6. enam yang tiada tujuhnya,

7. tujuh yang tiada delapannya,

8.. delapan yang tiada sembilannya,

9. sembilan yang tiada sepuluhnya,

10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,

11. sebelas yang tiada dua belasnya,

12. dua belas yang tiada tiga belasnya,

13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.

14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!

15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?

16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?

17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?

18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!

19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?

20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?

21.. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!

22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun,

setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca basmalah ia berkata,

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.

2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12)..

3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan,

membunuh seorang anak kecil dan ketika me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.

4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.

5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.

6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.

7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis.

Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.

Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.

Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan,

musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *

10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan.

Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusu f ...

12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,

'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).

13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruhadalah waktu Shubuh.

Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing. " (At-Takwir: 18).

15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf ,

yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya,

"Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami

tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan

serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,"

tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata,

"Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya

Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara kele-dai." (Luqman: 19).

18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.

19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.

Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).

20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah

dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalahtipu daya wanita,

sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun,

setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari
maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"

Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata,
"Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab,sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Pendeta tersebut berkata,

"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.
" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."
Sang pendeta pun berkata,
"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.

Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**

* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)

** Kisah nyata ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah melalui

internet, www.gesah.net

Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui
bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan
menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..
Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan
cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..
Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir..

amien
(sumber: Renungan Kisah Inspiratif)

read more

JANJI ALLAH BAGI ANDA YANG AKAN MENIKAH

0 komentar
Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku...

1. "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)". (An Nuur : 26)

Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.

2. "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, "apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?".

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah - dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya - maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. "Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya". (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". (Ar Ruum : 21)

5. "Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina' ". (Al Mu'min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dst.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dll.

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam". (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu." (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).

6. "Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat". (Al Baqarah : 153)

Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid'ah-bid'ah.

7. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (Alam Nasyrah : 5 - 6)

Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.

8. "Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". (Muhammad : 7)

Agar Allah Tabaraka wa Ta'ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (Al Hajj : 40)

10. "Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah : 214)

Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?
sumber: Renungan Kisah Inspiratif

read more

Rabu, 21 April 2010

BELUM BERHASIL, TIDAK SAMA DENGAN GAGAL

Rabu, 21 April 2010 | 0 komentar
Sahabat Indonesia yang super,
yang sedang menepatkan perjalanan naik dalam karir dan kehidupannya.

Adik-adik dan anak-anakku terkasih,
yang mudah-mudahan dapat mengunduh banyak kebijakan dalam persahabatan kita ini,

Mudah-mudahan sapa saya di hari Kamis yang penuh potensi ini mendapati Anda dalam kesehatan yang prima dan dalam kesungguhan belajar dan bekerja yang menjadikan Anda pribadi yang mampu dan berwenang.


Dia yang jalannya lurus, lebih cepat sampai.

Dan pengingat itu sangat dibuktikan dalam ketepatan perjalanan karir dan kehidupan kita, yang ditentukan oleh ketepatan sudut pandang kita.

Sudut pandang kita dalam kehidupan ini adalah SUDUT MASUK dan JALUR PERJALANAN yang kita yakini sebagai pengantar yang pasti ke masa depan yang sejahtera dan berbahagia.

Sehingga,

Meyakini sudut pandang yang salah, akan menjadikan kita bergelut letih dalam pekerjaan yang tidak menyejahterakan, dan mengarungi kehidupan yang gerah dan resah.

Untuk memastikan bahwa kita bekerja dan berkeluarga selama puluhan tahun kehidupan kita ini – dengan kegelisahan yang seperlunya, dan dengan kebahagiaan yang sepenuhnya, kita harus memeriksa ketepatan sudut pandang kita.

Dalam bagian berikutnya dari sapa saya siang ini, saya susunkan sebuah Golden Point yang sederhana mengenai salah satu bahasan mengenai sudut pandang, bagi penikmatan kita di ruang keluarga MTSC yang ramah dan santun ini.

Please kindly enjoy, absorb, and apply.

………..

Mario Teguh Golden Point
BELUM BERHASIL, TIDAK SAMA DENGAN GAGAL

………..

Sahabat saya yang baik hatinya,
yang kebaikan hatinya pantas bagi kehidupan yang sejahtera dan membahagiakan,

Adik-adik dan anak-anak saya yang besar impian-impiannya,

Damaikanlah hati Anda, karena Anda sedang bekerja menuju kebesaran hidup yang telah menjadi hak kelahiran Anda.

Sebagai anak muda yang agresif dan tak sabaran, saya dulu sangat gelisah dengan kemajuan yang ‘rasanya’ lambat.

Sepertinya, apa pun yang saya lakukan dan seperti apa pun baiknya saya kerjakan, selalu saja ada yang salah, ada yang belum tepat, dan selalu saja ada orang yang berkomentar yang menyakitkan hati.

Saya geram dan tak sabaran dalam pekerjaan saya sepanjang minggu, dan berkecil hati dan gelisah dalam malam-malam yang tanpa tidur.

… dan itu berlangsung lama, berkelanjutan, seolah tanpa akhir,
dan seolah akan menjadikan saya pribadi yang harus bertahan dan menjelaskan bahwa saya orang baik,
bahwa saya masih berguna,
dan bahwa saya berniat baik bagi kebaikan orang lain …

Hmm … yang di atas menekan, yang di bawah memfitnah, dan yang di samping berkhianat …

… yang saya hargai – mereka cemoohkan,
padahal yang mereka hargai justru yang menurut saya tidak berkualitas …

… yang menurut saya penting – mereka katakan sebagai teori,
padahal praktek yang mereka banggakan – justru yang menurut saya sangat primitif …

… saya berusaha menganjurkan yang memajukan keadaan,
mereka bilang saya terlalu awal bagi waktu saya …

… saya banyak membaca dan belajar agar mampu mengenalkan hal-hal yang memperbarui kehidupan,
mereka bilang saya sok tahu …

… saya usulkan ide baru,
dan mereka bilang orang yang lebih hebat daripada saya saja – gagal …

… tetapi, untungnya Mario yang muda itu tidak pernah menjadikan penolakan dan keraguan orang lain itu, sebagai pengecil hati dan mengabur sudut pandangnya, karena kemudian…

… TIBA-TIBA …

kehidupan berlaku lebih hormat kepada saya.

Nama saya yang dulu - sudah lama sebagai Mario Teguh, sekarang menjadi Mario Teguh.

Kalimat di atas agak aneh ya? Tetapi, perhatikanlah ini …

Adik-adik dan anak-anakku yang terkasih,

Ini pelajarannya, nama kita bisa sama dan lama, tetapi kehidupan bisa menghadiahkan penghormatan yang baru.

Maka marilah kita memulai dengan menghormati nama kita.

Dan marilah kita bersikap dan berlaku yang sesuai bagi penghormatan yang kita harapkan terhadap nama ini.

………..

Sahabat saya yang baik hatinya,

Kehidupan sering berlaku dengan cara yang sulit kita mengerti maksudnya.

Tetapi, jika hati kita ikhlas,
kita akan segera melihatnya sebagai cara Tuhan untuk menuntun kita menuju jalan yang lurus,
jalan yang diberkati dengan nikmatnya kedamaian, nikmatnya kesejahteraan, dan nikmatnya kewenangan untuk memimpin kehidupan yang bernilai.

Karena ini semua adalah atas kehendak Tuhan, marilah kita belajar untuk lebih patuh.

Tuhan meniupkan mimpi-mimpi yang besar dan keinginan-keinginan yang mulia di hati kita, agar kita gelisah dan gusar dengan belum sesuai-nya kemampuan kita untuk mencapai impian dan keinginan yang besar dan yang tinggi itu.

Dan dalam kegelisahan dan kegusaran itulah Anda akan menjadi pribadi yang lebih bersungguh-sungguh membangun kemampuan yang memantaskan diri bagi impian dan keinginan Anda.

Adik-adik dan anak-anakku terkasih,

Apakah itu yang sedang kalian rasakan?

Saya bisa tersenyum membayangkan kalian mengangguk dalam hati, dan bahkan saya tersenyum dengan keharuan yang dalam - membayangkan hati kalian berada dalam penggorengan seperti itu. Maaf ya? Tetapi itu berarti baik …

Itulah kehidupan. Anda yang sekarang hatinya sedang gundah dan geram, sedih dan gelisah – adalah jiwa yang dikasihi Tuhan, yang sedang berada dalam proses pendewasaan dan penghebatan.

Bersabarlah.

Anda tidak akan disedihkan, tanpa disiapkan kebahagiaan.
Anda tidak akan digalaukan, tanpa dibangunkan kedamaian.
Dan Anda tidak mungkin direndahkan, tanpa disusunkan derajat yang tinggi.

Jika saat membaca ini,
hati Anda melunak dan kelopak mata Anda bergetar lembut –
itu berarti bukan saya lagi yang menganjurkan Anda untuk bersabar.
Itu berarti tangan Tuhan telah bersandar lembut dan anggun di pundak Anda,
dan menepuk dengan penuh kasih – agar hati Anda menemukan keindahan aslinya,
untuk mensyukuri cara-cara Tuhan yang tiada lain hanya akan memuliakan Anda.

Anda adalah pangeran dan putri dalam kemudaan Anda, yang nanti akan menjadi raja dan ratu dalam peran Anda bagi kebaikan kehidupan sesama.

Bersabarlah.

Dan bersuka-citalah dalam kesabaran Anda.

Jika kehidupan ini kelihatannya dan rasanya tidak ramah, damaikanlah hati Anda. Tetaplah bekerja dalam kejujuran dan kesungguhan.

Memang begitulah kelakuan kehidupan.

Anda dibuat merasa seperti orang gagal. Tetapi memang itulah cara kehidupan menyiapkan Anda untuk tetap rendah hati saat Anda menjadi kaya dan mulia nanti.

Ingatlah selalu, bahwa …

Anda bukan orang gagal, yang sedang berupaya untuk berhasil.

Anda dalam perjalanan menuju keberhasilan, tetapi sedang diuji dengan kegagalan sementara.


Ini masalah sudut pandang.

Seseorang yang belum berhasil, tidak bisa disebut orang gagal.

Selama dia berupaya, dia adalah seorang petarung yang berada dalam perjalanan menuju kemenangan hidupnya.


Tidak ada orang yang bisa disebut gagal, selama dia berupaya, dan selama dia tidak menyerah.

Bagaimana mungkin dia menyerah, karena dia menyadari bahwa kegagalan yang sedang dialaminya adalah keadaan sementara, yang pelampauannya akan menjadikannya pemenang.

Maka marilah kita terima dengan ikhlas, bahwa …

Belum berhasil, tidak sama dengan gagal.

Karena,

Tidak ada orang yang bisa disebut gagal, selama dia berupaya, dan selama dia tidak menyerah.

………..


Sahabat Indonesia yang hatinya baik,

Mudah-mudahan Tuhan segera menyudahi masa penyiapan Anda,
dan segera memasukkan Anda kedalam golongan yang dikerkati-Nya
dengan nilai-nilai yang terpuji,
dengan kemampuan menikmati yang sudah ada bersama Anda,
dan diberikan kewenangan untuk memajukan yang baik dan mencegah terjadinya keburukan kepada sesama.

Tuhan sangat menyayangi Anda. Jika tidak, mengapakah hati Anda dibuat peka merasakan kebaikan?

Sampai kita bertemu suatu ketika nanti ya?, agar kita bisa berjabat-tangan dan bercerita ke sana ke mari tentang ini dan itu, dalam kegembiraan dan ketulusan hati-hati kita yang jujur.

Adik-adik dan anak-anakku yang terkasih, kalau ketemu Pak Mario – kalian ingatkan saya untuk cerita masa kecil dan masa muda yang lucu-lucu dan yang kemudian ternyata penting bagi masa depan ya?

Mudah-mudahan Tuhan menguatkan kita untuk menjadi sebesar-besarnya pemimpin yang amanah, bagi kesejahteraan dan kebahagiaan seluas-luasnya umat.

Mohon disampaikan salam sayang dari Ibu Linna dan saya, untuk keluarga Anda terkasih.

Loving you all as always,

read more

Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Smart, happy

Saca Firmansyah

Wilayah Pengunjung