Kamis, 17 Februari 2011

DZIKIR ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN

Kamis, 17 Februari 2011 | 0 komentar
Semalam pukul 00.51 nada sms yang berbunyi dari hpku telah membangunkan saya dari tidur pulas, setelah membalas sms tersebut mata seakan ngambek dan enggan untuk dipejamkan lagi, kemudian fikiran pun melayang-layang entah kemana, sesaat kemudian baru aku teringat bahwa dalam minggu ini belum sekali pun saya melaksanakan Qiyamul lail, padahal dulu Almarhum Bapakku pernah menganjurkanku untuk melaksanakan Qiyamul lail minimal sekali dalam seminggu tanpa membuang waktu lagi segera ku bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’ dan kemudian membiarkan diri terhanyut dalam alunan dzikir, penyerahan diri dan pengaduan segala macam kegalauan hati kepada Illahi.

Setelah puas mencurahkan segala perasaan dan pengharapan kepada Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, ku buka lembaran Al-Qur’an yang entah sudah berapa hari tidak kusentuh, setelah membaca beberapa lembar ayat-ayat suci ada ketenangan dan kebahagian yang ku rasakan dalam kesunyian malam itu, dalam kedamaian hati itu teringat aku akan Firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya “Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, memang benar hanya zikir yang akan selalu memberikan ketenangan dan kebahagian dalam hidup kita, melalui tulisan ini kita akan coba melihat kunci kebahagian dalam kalimat Tasbih, Tahmid dan Tahlil yang menjadi dzikir kita setelah sholat. Kerelaan memaafkan adalah salah satu kunci kebahagiaan, melalui kalimat Tasbih, Subhanallah yang berarti Allah Maha Suci maka selain dari Allah yaitu manusia yang notabenya makhluk tidaklah terlepas dari kesalaahan dan kealfaan. Kesempurnaan manusia itu terletak pada ketidaksempurnaannya, dengan memahami konsep ini maka hati kita akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain. Hasil penelitian dokter Gerarld Jamponsky disimpulkan bahwa sebagian besar permasalahan yang kita hadapi dalam hidup ini bersumber dari ketidak mampuan kita dalam memberikan maaf kepada orang lain, hal ini pulalah yang memotivasinya mendirika pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang menggunakan metode tunggal yaitu; Rela Memaafkan.

Kalimat Tahmid Alhamdulillah adalah bukti kerelaan dan keikhlasan menerima apa yang kita dapatkan. Orang bahagia adalah orang yang senantiasa memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah dalam situasi apa pun, ada sebuah kisah menarik yang sangat Inspiratif tentang orang-orang yang selalu bersyukur, pada suatu hari seorang petani miskin ini kehilangan kuda yang menjadi kekayaan satu-satunya, sehingga orang-orang dikampung itu menjadi prihatin melihat kondisi sang petani itu, namun diluar dugaan masyarakat tersebut dari mulut petani tersebut yang keluar adalah kalimat Alhamdulillah setalah beliau kehilangan kuda satu-satunya. Seminggu kemudian ternyata kudanya yang hilang kemarin kembali dengan membawa segerombolan kuda liar sehingga petani tadi mendadak menjadi orang kaya dan orang-orang dikampungnya itu berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, ia hanya berkata Alhamdulillah.

Tidak berapa lama setelah kejadian yang menghebohkan kampong itu petani tadi kembali mendapat musibah, anaknya yang berusaha untuk menjinakkan seekor kuda liar tadi terjatuh yang mengakibatkan patah kaki, orang yang melihat kenyataan itu menaruh rasa prihati kepada petani tersebut tetapi lagi-lagi kalimat yang keluar dari petani tersebut adalah Alhamdulillah, beberapa hari kemudian tentara masuk ke kampong tersebut untuk mencari para pemuda guna ikut wajib militer, semua pemuda dikampung tersebut dibawa oleh tentara kecuali anak petani tadi karena sedang menderita patah kaki, melihat kejadian ini si petani hanya berucap singkat Alhamdulillah. Cerita ini sangat inspiratif dan mengandung pesan bahwa, apa yang kelihatannya baik belum tentu baik dan apa yang kelihatannya buruk belum tentu juga buruk dan orang-orang yang bersyukur tidak terpenngaruh oleh hal tersebut karena mereka selalu ikhlas menerima apa saja yang dia hadapi dan yakin bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya

Kalimat dzikir yang ketiga yaitu Takbir, Allahu Akbar, mengandung pesan apa pun selain daripada Allah adalah kecil jadi persoalan apa pun yang kita hadapi di dunia ini sebenarnya adalah kecil tetapi ketika menghadapinya kita sering mendramatisinya seolah-olah itu adalah masalah besar yang akan meruntuhkan lagit dan menghancurkan kehidupan kita padahal dalam Al-Qur’an telah dinyatakan bahwa Allah tidak menguji hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya itu dan dalam kenyataan hidup pun masalah-masalah yang memusingkan kepala dan kita anggap sebagai persoalan besar tetapi seiring dengan berjalannya waktu kita telah lupa dengan persoalan yang dulu kita hadapi itu, hal ini membuktikan bahwa sebenarnya persoalan itu memang kecil tetapi kita terkadang sering membesar-besarkannya.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram, oleh karena itu untuk mendapkan kebahagiaan mari kita basahi lisan kita dengan dzikir dan kemudian berusaha untuk menangkap pesan-pesan yang terdapat dalam kalimat dzikir tersebut untuk di amalkan dalam kehidupan supaya kita bisa menjalani hari-hari kita dengan penuh kebahagian dan keberkahan dari Allah…


NB;
Note ini ada karena ada pesan yang masuk ke hp saya pada hari Jumat 21 Januari 2011 jam 00.51, melalui note ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada si pengirim pesan ke hp saya itu (sengaja tidak saya sebutkan namanya melalui note ini) karena smsnya telah membangunkan saya dan menginspirasi saya melakukan berbagai aktifitas yang bermanfaat pada malam itu, semoga Allah memberikan kebaikan dan keberkahan kepada si pengirim sms itu. Dan Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah yang senantiasa memberi hidayah untuk menerangi kehidupanku…

read more

DENDAM KEHIDUPAN

0 komentar
Lantunan ayat suci al-Qur’an yang menggema keseluruh pelosok jorong Batu Basa dari tape record Mesjid Baburrahim telah memanggil jiwaku yang dari malam tadi pergi untuk segera kembali menyatu dengan ragaku ini, kemudian secara reflek tanganku lansung melemparkan kain yang menyelimuti tubuhku, alunan bait-bait lagu Haji dari grup nasyid Raihan yang menjadi alaram hp menuntunku untuk segera mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menghidupkan jiwa ini kembali setelah matiku dan kemudian memaksaku untuk segera bangkit dari istirahat melepas lelah dari aktifitas kemarin, dengan langkah teruntai aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah berpakaian rapi lalu ku buka jendela dan pintu ramah kemudian dengan langkah yang pasti aku melangkah kaki menuju Mesjid untuk melaksanakan pengabdian kepada Illahi, dalam perjalanan ini aku mendapatkan kembali nikmat yang telah lama hilang yaitu menghirup udara yang segar disertai oleh belaian dan hembusan angin dari arah puncak gunung merapi serta sentuhan lembut dari embun pagi.

Setelah sholat Shubuh berjamaah salah seorang pengurus mesjid Baburrahim memintaku untuk memberikan kuliah subuh, inilah adalah permintaan yang tidak pernah bisa aku tolak karena sejak Almarhum orang tuaku masih hidup, beliau selalu mengingatkanku untuk tidak pelit berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat dikampungku dan juga karena sudah tiga hari sejak memberikan Khutbah Idul Adha aku tidak sempat lagi naik podium mesjid ini guna untuk berbagi pengalaman dan bacaan dari ilmu yang telah aku dapatkan selama delapan tahun merantau dan belajar di Jakarta, padahal tujuan pulang kampung yang aku lakukan kali ini selain untuk memenuhi permintaan saudara-saudaraku untuk merayakan Idhul Adha bersama juga untuk memberikan pengabdian kepada kampung tempat aku lahir dan dibesarkan.

Dalam pengajian itu aku menyampaikan kepada jama’ah sholat Shubuh bahwa aku memiliki sebuah dendam yang tidak akan pernah aku lupakan, dengan sekuat tenaga akan aku balaskan dendam ini dengan sempurna, mereka kaget mendengarkan pernanyaan ini, belum lagi hilang perasaan terkejutnya aku menambah pernyataanku, bahwa hari aku ingin mengajak seluruh jamaah mesjid ini untuk mengobarkan api dendam itu, pernyataan ini membuat mereka makin bingung karena selama ini mereka mengenalku sebagai pribadi yang cukup ramah dan bahkan nyaris tak pernah memperlihatkan wajah yang suka marah yang menjadi salah satu identitas orang pendendam, dan juga dendam itu adalah perbuatan yang tercela yang dilarang oleh agama tetapi saat ini mereka mendengarkan lansung dari mulutku didalam rumah Allah tempat untuk beribadah, perbuatan yang seharusnya dihindarkan sekarang malah diajarkan kepada orang, setelah diam beberapa detik untuk membiarkan jamah ini terjebak dalam kebingungan mendengarkan pernyataan yang kontorversi ini, baru saya jelaskan bahwa dendam yang selalu saya jaga dan akan saya upayakan semaksimal mungkin untuk membalasnya adalah dendam kehidupan, ketika saya dilahirkan kemuka bumi ini saya menjerit dan menangis tetapi orang yang menantikan kedatangan saya ke bumi ini yaitu orang tua dan karib kerabat saya malah tertawa dan bahagia, kebahagian mereka diatas tangis saya ini mesti saya balas dengan memutarbalikan keadaan ini, waktu untuk membalaskan dendam ini adalah nanti, ketika meninggalkan dunia ini saya ingin pergi dengan senyum bahagia menuju alam keabadian dengan bekal amal kebaikan dan meninggalkan sanak saudara dan bahkan orang yang pernah berhubungan dengan saya berlinang air mata.

Ini adalah dendam yang mesti kita balaskan, dendam ini dibalaskan bukan dengan amarah dan kebencian tetapi dengan cinta dan kasih sayang, maka hari-hari yang kita jalani saat ini sampai batas akhir keberadaan kita didunia ini adalah hari-hari untuk menebarkan kebaikan kepada sesama manusia dan menyempurnakan pengabdian kepada sang Pencipta agar kita mendapatkan anugrah dan hidayah-Nya, inilah modal untuk menyempurnakan dendam kehidupan yang sesuai dengan ayat al-Qur’an surat Maryam ayat 76. “ dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk dan Albaqiyatu Sholeh (kebaikan yang kekal menurut Hamka jejak yang baik) lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya” artinya didunia ini kita mesti berusaha untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah Allah, degan tanpa henti menebarkan kebaikan kepada sesama supaya kita bisa meninggalkan jejak yang baik untuk menuntaskan dendam kehidupan karena jejak kebaikan akan membuat sedih orang yang ditinggalkan dan juga akan selalu membuat orang jadi terkenang.

Sajak dendam kehidupan

Dia berkata keceriyaanku tidak membuat mereka bahagia
Dulu saat bersama kita selalu berbagi rasa
Kemudian aku pergi meninggalkannya
Aku tersenyum mesti kematian datang menjemputku
Karena setelah ini engkau tak akan lagi melihat senyumku
Karena aku telah berada disisi Tuhanku
Dengan bekal kebaikan
Sesuai dengan apa yang telah dititahkan
Menjemput kebahagian yang selalu aku idamkan

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membuat dendam kehidupan makin membara dihati kita, sehingga usaha yang kita lakukan adalah upaya untuk menyempurnakan dendam ini, alangkah ruginya jika dendam ini tidak bisa kita tuntaskan, saat orang tidak merasa kehilangan dengan ketiadaan kita dan tidak merasa sedih dengan kepergian kita yang tidak akan pernah kembali lagi dan celaka sekali kalau sampai kepergian kita menjadi kebahagian buat orang yang ditinggalkan karena merasa terbebas dari kejahatan yang kita lakukan.

Selamat berjuang untuk menentaskan dendam kehidupan...

read more

BENARKAH ADA KARMA

0 komentar
Berawal dari telpon yang masuk ke hp saya dari no yang belum aku kenal, pada waktu sahur di bulan Ramadhan 1430 H, tak butuh waktu yang lama setelah kejadian itu, kedekatan kami akhirnya membentuk sebuah cerita antara diriku dan dirinya karena beberapa tahun sebelumnya kita memang sudah saling kenal, hari-hari yang kami lalui adalah hari-hari yang merangkai asa untuk membuat kisah yang baru dalam hidupku dan hidupnya, semuanya berjalan lancar seperti yang saya dan dia harapkan tapi kemudian takdir berkata lain keadaan memaksaku untuk mengubur semua mimpi itu dan meminta dia untuk merelakan kepergian saya, pergi yang tak akan kembali lagi kepadanya, keputusan ini belum bisa dia terima beberapa kali dia mengirimkan puisi yang merupakan jeritan hatinya, diantara puisi-puisinya itu:

Surat buat Tuhan
Tuhan…. tanpa perlu ku bercerita
Tentu Engkau sudah tahu kisah ku…
Dan tahu hati ku…
Bolehkah aku berkata letih sekarang Tuhan….
Sungguh aku tidak menyesalimu dan tidak pula mencela takdir-Mu…
Tapi disini aku menemukan batas-batasku….
Dalam firman-firman-Mu yang dulu tak kumengerti…
Biar kini aku berhenti….
Dan tak lagi mencari….
Karena kini tiba saatnya ku tuk diam dan menanti….
Takdir-Mu yang mengantarkannya atau yang lebih baik padaku…
Mengikis duka ini dari aku Tuhan…
Terima aku dipinta-Mu
Sungguh aku haus akan cinta…
Hanya kau muaranya…


Puisinya hanya aku balas dengan menjelaskan alasan kepergiaanku dan meyakinkannya bahwa dia akan mendapatkan orang yang lebih baik dari diriku tetapi namun jawaban saya tidak memuaskannya dan puisi pun dia kirimkan untukku

Katamu perpisahan ini adalah sebuah keharusan…
Tak akan begitu sakit
Tapi apa itu yang membuat dadaku sesak
Nyeri dihulu hati
Dan melemaskan sendi
Menurut mu aku tak butuh kau
Dan kau tak butuh aku…
Tapi kenapa aku berhenti tertawa …
Berhenti bercerita pada bunga disamping jendela…
Tak lagi merasa utuh sebagai wanita
Tak punya alasan untuk berbahagia..
Seperti dulu saat kau ada
Pesan mu…teruslah berjalan dan lupakan aku…
Apakah kau telah begitu dungu….
Jika aku terus berjalan maka jejak-jejak kaki kita akan semakin jauh dari mataku..
Dan jika kebahagianku yang tersisa adalah ingatan saat kau masih bersamaku..
Haruskah aku mengikisnya??

Puisi yang dia kirimkan tak lagi ku balas karena waktu itu aku berfikir bahwa diam adalah salah satu cara untuk membuat dia tenang dan bisa mengikhlasan kepergianku, tapi dugaan ku salah karena dia masih mengirimkan puisi untukku

Sore ini telah kutulis belasan pesan untukmu…
Sebagian benar-benar aku kirim dan sebagiannya lagi tidak
Karena aku masih ragu…
Toh kau juga tak mau membalasnya
Tapi..terkirim atau tidak…
Kau baca atau tidak..
Kita sama-sama tahu semuanya hanya tentang betapa aku…
bodoh terbawa dengan perasaan sendiri
Apakah menyukai seseorang adalah sebuah kehinaan??
Apakah menyukaimu begitu membuatmu malu…
Dan apa kau perlu membenciku karena aku menyukaimu
Dan mengapa pula kau mesti melarangku merasakan itu
Tubuhku berada dalam sekat
Gerakku terbatas tapi asa ku melalang buana
Dan tak ada yang mampu menghentikannya..
Bahkan tidak kau mungkin juga tidak aku
Meski segala acuhmu merajam hati ku….

Pesan ini hanya ku jawab dengan permintaan maaf karena aku telah mengajak dia untuk merangkai mimpi tapi kemudian aku juga yang telah mengancurkan kerangka-kerangka yang sudah mulai tersusun dengan rapi walau pun aku menghancurkannya karena keterpaksaan kemudian dia kembali mengirimkan pesan kepadaku

Aku tidak bisa menyalahkanmu….
Atas kedatanganmu yang tiba-tiba dalam hidupku..
Kita tidak punya pilihan bukan??
Kalaupun ada….
Aku akan tetap memilih menjalani takdir ini….
Lagi….dan lagi….
Walau dengan perih yang sangat
Karena kau bukan milikku…
Tapi perih itu belum seberapa dibanding kebahagian yang kau berikan
Walau sesaat ku tak akan rapuh dan terjatuh
Walau sakit luka yang telah kau goreskan
Namun ku tak akan perrnah menyesali luka itu
Karena sesungguhnya kebodohankulah yang membuat luka ku sendiri

Setelah mendengarkan penjelasanku bahwa aku juga merasakan perihnya perpisahan ini, dia mulai menerima keputusanku setelah itu kemudian dia memintaku untuk mengabadikan puisi-puisi yang dia kirimkan padaku.

Sekarang saat takdir berbicara bahwa aku juga tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan mendapatkan perempuan yang aku dambakan, puisi-puisi dari akhwat ini menggiringku pada sebuah pertanyaan, benarkah ada karma? Dan apa yang saya alami ini adalah karma dari dosa yang saya lakukan kepadanya? Saya tidak tau apakah penderitaan saya saat ini sama seperti penderitaan dia dulu atau mungkin lebih dan mungkin juga kurang dari penderitaan dia tapi yang pasti saya bisa mengambil hikmah dari semua drama ini. Sekarang setulus hati saya berdo’a kepada Allah semoga orang yang ditemui atau menemukan tulisan ini tidak akan mengalami apa yang saya alami ini dan bisa menyatukan cinta dan kasih sayang yang anda bangun menyatu dalam ikatan suci nan abadi..Amien Ya Rabbal ‘Alamin..

read more

AUR SERUMPUN

0 komentar
Kalimat atau kata Aur Serumpun bagi uda, uni dan teman-teman sekampung atau yang satu sekolah dengan saya di tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah atau mungkin juga bagi orang-orang yang berasal dari Batu Sangkar akan mengingatkan anda kepada sebuah bukit yang terletak didaerah Padang Lua, tempat dimana kita bisa menghirup udara yang segar, melihat keindahan danau Singkarak dan keelokan lukisan alam lainnya dari Sang Mahakarya, yang menjadi tempat rekreasi murah guna melepaskan lelah dari kesuntukan dan kejenuhan fikiran menjalani lika-liku kehidupan, saya sebut tempat rekreasi murah karena waktu saya sekolah Tsanawiyah dengan modal uang 300 – 500 perak dikantong dan berbekal nasi dengan lauk telur dan jengkol yang dibungkus dengan daun pisang, sudah cukup untuk berekreasi ke Aur Serumpun itu, karena menempuh tempat itu tidak perlu pake ongkos cukup dengan berjalan kaki hal ini tidak akan menjatuhkan harga diri dan juga tidak akan di cap atau dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kecukupan materi karena memang kebanyakan orang dari kampung saya menempuh tempat rekreasi ini dengan berjalan kaki, tidak akan ada pungutan karcis, dan tidak banyak juga pilihan belanja atau makanan yang akan membuat kantong terkikis habis, karena makanan yang dijual disekitar Aur Serumpun itu, air, es, bakwan, tahu, kerupuk dan snack lainnya.

Namun dalam note ini kita tidak akan membahas cerita dan kenangan yang pernah terukir di keindahan Aur Serumpun itu tapi kita akan coba melihat sisi lain dari Aur Serumpun yaitu filosofi dan pesan yang kandung dalam fenomena Aur Serumpun, seperti petuah orang Minang “alam takambang jadi guru” maka pada aur serumpun pun idealnya harus ada pelajaran yang bisa kita petik.

Sabtu sore saya ada janji dengan Ustadz Ade Novli seorang tokoh muda yang potensial yang telah mengkader saya menjadi aktifis dakwah ketika beliau menjabat sebagai ketua Majelis Tabligh dan Dakwh Khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, untuk pergi bersilaturrahim ke kantor uda Ismail Anas yang menjadi pengganti Ust Ade sebagai ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus setelah Ust Ade Novli mendapat amanah memimpin salah satu Sekolah Tinggi Muhammadiyah di Singapure, silaturrahim ini adalah untuk memperkuat kembali ukhwah yang sempat memudar karena terpisah oleh jarak dalam rentang waktu yang cukup lama.

Pukul tiga sore adalah waktu yang saya dan Ust Ade sepakati untuk ketemuan yang bertempat di daerah Lebak Bulus, kemudian kami berangkat bareng menuju kantor uda Ismail dengan mengendarai si kuda besi menerobos kemacetan lalu lintas, pukul empat kurang kami telah sampai dikantor da Ismail tapi sayangnya beliau belum juga sampai dikantornya karena beliau terjebak macet ketika mau balik kekantor setelah rapat dengan mitra kerjanya, setelah sholat Ashar berjamaah da Ismail belum juga datang, kemudian saya yang diiringi oleh ust Ade menuju ruangan Pak Anwar pendiri dan pimpinan Aur Serumpun yayasan pendidikan D1, dalam perbincangan kami inilah saya mendapatkan filosofi dari istilah Aur Serumpun itu, sekolah D1 yang dirikan oleh Dosen Pasca Sarjana Ibnu Khaldum ini tujuan utamanya adalah membantu orang Minang yang karena kekurangan dana tidak mampu melanjutkan pendidikannya, karena bagi orang Minang yang tidak mampu membayar uang kuliah akan beliau gratiskan biaya kuliah ditempat beliau ini.

Aur apabila tumbuh ditepi tebing maka tanah ditepi tebing itu akan menjadi kuat dan tidak akan mudah terkikis oleh longsor, maka kita juga harus bisa hidup seperti Aur itu kata Pak Anwar, dimana pun kita hidup sekuat tenaga dan sebisa mungkin kita perlu dan harus menolong saudara kita, saya kata beliau, karena berprofesi sebagai Dosen maka saya akan membantu saudara-saudara dan orang terdekat kita dengan pendidikan agar mereka memiliki modal yang cukup untuk bertarung mendapatkan pekerjaan yang layak karena kehidupan ini makin lama makin keras kalau kita tidak siap menghadapinya maka kehidupan ini akan menggilas kita.

Perbincangan kami ini mengingatkan saya akan kebenaran dari pernyataan dan pesan Rasulullah: Man Arada dunya fa ‘alaihi bi ‘ilmi wa man arada akhirah fa ‘alaihi bi ‘ilmi. yang artinya: siapa yang ingin mendapatkan kesenangan di dunia maka syaratnya harus memiliki ilmunya, siapa yang ingin mendapatkan kesenangan di akhirat mesti dengan ilmu juga. Kalua tidak memiliki ilmu atau keahlian maka hidup kita akan susah dan kita tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup ini.

Sekarang pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah sudahkan kita menjadi aur?, memberikan manfaat untuk membantu saudara-saudara kita, kalau belum maka sudah saatnya kita memulai untuk menyebarkan virus-virus kepedulian dan menebarkan benih-benih kebaikan untuk memperbesar rumpun aur kehidupan karena setiap kebaikan yang kita berikan dengan penuh keikhlasan pasti akan kembali lagi kepada kita, dan juga sudah saat kita melakukan anti sipasi dini terhadap peringatan Allah dalam surat An-Nisaa’ ayat 9. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Dengan memulai gerakan menebar benih-benih kebaikan, mempertautkan tali persaudaraan, dan melakukan pengkaderan maka lahirnya generasi-generasi kuat yang siap menaklukkan tantangan kehidupan Insyaallah akan bisa terwujudkan.

Salam sukses untuk niat dan upaya bagi penyebaran virus-virus kebaikan…

read more

Kenapa Sering Terjadi Perbedaan Awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri Dan Idul Adha

1 komentar
Dalam sepuluh tahun terakhir ini sering kita temui perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, fenomena ini menimbulkan kebingungan, kegelisahan, kekhawatiran dan perdebatan yang hangat bagi sebagian masyarakat kita karena perbedaan ini melibatkan salah satu organisasi tertua dan terbesar dinegeri ini yaitu Muhammadiyah dengan NU dan Pemerintah.
Pada tahun ini perbedaan itu kembali terjadi dalam penetapan 10 Zulhijjah atau Hari Raya Idul Adha, Muhammadiyah jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa 10 Zulhijjah 1431H jatuh pada tanggal 16 November 2010 sementara pemerintah setelah MUI melakukan sidang Isbath, pada hari Selasa tanggal 7 November 2010 mengumumkan melalui media bahwa pemerintah menetapkan 10 Zulhijjah 1431H jatuh pada tanggal 17 November 2010.
Setelah pemerintah menetapkan 10 Zulhijjah 1431H jatuh pada tanggal 17 November 2010 melalui media massa pada tanggal 7 November 2010 pukul 10.39 WIB sebuah sms masuk ke hp saya yang berbunyi: “Bismillahirrahmanirrahim! Ustaz, kenapa Muhammadiyah berpegang pada Hisab Wujudul Hilal padahal tidak sesuai dengan wahyu. Abu Umar Abdillah mengatakan wahyu harus mengatur sciens jangan dibalik durhaka. Semoga anggota Muhammadiyah tidak taqlid kepada hisab yang tidak sesuai wahyu. Allah MURKA!!!” diakhir sms nya beliau menyebutkan gelarnya Dr beserta namanya (sengaja tidak saya sebutkan namanya) beliau berasal dari Medan katanya”. Waktu istirahat setelah sholat Zhuhur saya membalas smsnya dengan menyebutkan beberapa ayat al- Qur’an yang berbicara tentang hisab, setelah itu beliau membalas “Al-Qur’an keterangannya mujmal karena itu diperjelas oleh sunnah Rasul yang mulia itu. Tanpa sunnah terjebak INKAR SUNNAH” setelah membaca balasan sms nya itu saya terfikir untuk menjawab persoalan ini melalui tulisan saja karena kalau saya balas via sms akan sulit untuk difahami, tidak efektif dan hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak berujung, yang pada akhirnya bisa menimbulkan salah pengertian, walaupun karena penasarannya beliau sampai 4x mengirimkan smsnya yang kedua itu kepada saya namun saya tetap tidak menjawabnya.
Melalui tulisan ini saya akan coba untuk menjelaskan kenapa dalam 10 tahun terakhir ini sering terjadi perbedaan dalam menetapkan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Metode dalam penentuan awal bulan hijriyah, khususnya pada tiga bulan yang berhubungan dengan ibadah umat Islam, yaitu Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, sampai batas tertentu adalah cerminan dari wajah fikih Islam yang plural. Metode yang digunakan dalam menetapkan awal bulan hijriyah ada dua yaitu metode atau sistem Rukyah bil Fi’li dan metode atau sistem Hisab. Metode atau sistem hisab terbagi pula menjadi pertama Hisab Urfi yaitu sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara kovensional yaitu secara selang seling 30 hari (bulan gasal) dan 29 hari (bulan genap). Kedua Hisab Hakiki, sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya. Jumlah hari setiap bulan tidak tetap (tidak harus selang-seling).
Hisab Hakiki juga memiliki beberapa aliran yaitu:
1. Ijtima’ qabla ghurub ini dipakai oleh Muhammadiyah
2. Ijtima’ qabla fajri dipakai oleh Arab Saudi
3. Posisi hilal diatas ufuk hakiki dipakai oleh Muhammadiyah
4. Posisi hilal diatas ufuk hissi
5. Posisi hilal diatas ufuk mar’i dipakai oleh NU
6. Posisi hilal yang mungkin dapat di rukyah (Imaknur rukyah) ini yang dipakai oleh MABIMS
Karena perbedaan dalam aliran hisab inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Muhammadiyah pada Munas Tarjih tahun 2000 di Jakarta munculkan kecendrungan yang lebih mengakomodir hisab secara lebih jauh sehingga lahirlah keputusan tarjih yang meletakkan hisab sejajar dengan rukyah. Muhammadiyah dengan semangat pembaharuan (tajdid) nya meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah salah satu wasîlah yang bisa digunakan untuk beribadah, sehingga dimensi normatif dari nash-nash al-Quran bisa selalu dikaitkan dengan dimensi ideal peradaban manusia. Sistem Hisab Hakiki sesuai dalil al-Qur’an surat al-Rahman ayat 5 disebutkan: al-Syamsu wal Qamaru bi husbân (matahari dan bulan bisa dihitung). Ayat ini bukan hanya pernyataan deklaratif saja (khabar), karena tanpa keterangan ilahi pun manusia akan tahu bahwa kedua benda langit itu bisa dihisab. Ayat ini mengandung pesan imperatif (thalab insyai) bahwa hendaknya posisi bulan dan matahari dihitung dan hendaknya hasil perhitungan itu dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam berakifitas. Jika kita membaca pesan-pesan al-Quran dengan seksama, terdapat banyak ayat yang berisi penekanan arti penting pengorganisasian waktu secara keseluruhanan. Dan dalam ayat lain surat al-Anam ayat 96 disebutkan; Fâliqu'l isbâhi wa ja'alal layla sakanaw was syams wal-qamara husbâna, dzâlika taqdîru'l azîzil 'alîm artinya Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Aliran Hisab Hakiki yang dipakai oleh Muhammadiyah adalah hitungan yang berdasarkan kepada peredaran bulan dan bumi yang sebenar-benarnya dan setepat-tepatnya dengan prinsip jika pada tanggal 29 dalam penanggalan hijriyah atau hari terjadinya
1. Ijtimak/konjungsi qabla ghurub (setelah matahari tenggelam)
2. Bulan terbenam setelah matahari maka keesokan harinya telah dinyatakan sebagai awal bulan hijriyah
3. Posisi hilal diatas ufuk hakiki (plus)

Sementara aliran hisab yang pakai oleh MABIMS adalah Posisi hilal yang mungkin dapat di rukyah (Imaknur rukyah) adalah tinggi bulan minimum 2 derajat saat maghrib menurut para ahli hilal hanya dapat dilihat dengan menggunakan teropong bintang bukan dengan mata telanjang, jarak bulan-matahari minimum 3 derajat, saat maghrib dan umur bulan saat maghrib minimal 8 jam lepas ijtimak.

Sementara Posisi hilal diatas ufuk mar’i yang dipakai oleh NU hanya dapat terlihat jika jarak sudut bulan – matahari sebesar tujuh derajat.

Kesimpulannya, apabila hilal berada pada posisi diatas nol (0) derajat dan dibawah 2 derajat, maka akan terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dan NU baik itu dalam penetapan awal Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah kita mengetahui dimana letak perbedaannya, kita boleh memilih mana yang kita yakini paling benar tetapi jangan pula kita mengatakan yg lain salah, tidak memiliki dalil yang kuat, berlawanan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Karena perbedaan dalam hal hilal ini bukanlah mengenai benar atau salah tapi mengenai mana yang paling akurat dan paling benar. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan oleh karena itu mari kita sikapi perbedaan ini dengan arif dan bijaksana agar apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa perbedaan itu adalah rahmah dapat kita wujudkan

read more

Sabtu, 14 Agustus 2010

HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR RAMADHAN

Sabtu, 14 Agustus 2010 | 0 komentar
Sebentar lagi kita akan menginjak bulan Ramadhan. Sudah saatnya kita mempersiapkan ilmu untuk menyongsong bulan agung tersebut karena bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan bulan ini dipilih Allah sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Bulan Ramadhan adalah hiburan bagi setiap orang yang berdosa, peringatan bagi orang yang lupa, pendidikan bagi orang yang jahil, pemberi semangat bagi setiap orang yang beramal karena padanya dibuka pintu-pintu surga, dilipat gandakan pahala dan ibadah. Maka padanya, Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni darinya dosanya yang terdahulu.

Karena motivasi ini, tidak heran kalau kita melihat orang berlomba-lomba beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Namun, karena semangat yang tinggi, tapi tidak disertai cukup ilmu, sering orang tidak lagi selektif terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan amalan Ramadhan. Tanpa disadari sebagian yang diamalkan dan diyakini ada hadis-hadis palsu. Sebagian lain sanadnya sangat lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Oleh sebab itu, sangat penting untuk diketahui hadis-hadis populer yang palsu dan lemah tersebut.



Hadis Seluruh Bulan adalah Ramadhan

لَوْ يَعْلَمُ اْلعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتيِ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضاَنُ السَّنَةَ كُلَّهَا، إِنّ اْلجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ اْلحَوْلِ إِلىَ اْلحَوْلِ ...

“Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya….” Hadis ini panjang.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhû’ât (Kitab tentang Hadis-Hadis palsu, 2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul Âliyah (Bab A-B/manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al-Ghifari. Hadis ini Maudhû’ (palsu), atau setidaknya matruk (semi palsu) karena cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata, “Terkenal dengan kelemahan (dha’if)” beliau juga menukil ucapan Abu Nu’aim tentangnya, “Dia itu suka memalsukan hadis.” Al-Bukhari juga berkata, “Hadisnya tertolak”, dan menurut an-Nasai, “Matrûk” (ditinggalkan/tidak dipakai hadisnya).” Pada matan hadis tersebut juga terdapat tanda-tanda kepalsuan.



Hadis Ramadhan Rahmat, Maghfirah, dan Bebas dari Api Neraka



يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ الله ُصِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَتِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ... وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ...



“Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/bebas dari neraka..” sampai selesai.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al-Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil Fi Dhu’afa (6/512), Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115). Hadis ini di dhaifkan oleh pakar hadis seperti Al-Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib, bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Razi dalam Al-‘Ilal (2/50) juga oleh Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah (871) bahwa hadis ini munkar. Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan di dalam Sifatu Shaumin-Nabi (110) dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadis itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Menurut murid ahli hadis ini, hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga, (no. 1887), dan Al-Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At-Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman. Hadis ini, menurut dua murid ulama Hadis tersebut, sanadnya Dhaif (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid. Ibnu Sa’ad berkata, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “Lemah di segala segi”, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Jangan berhujjah dengan Hadis ini karena jelek hafalannya.” Demikianlah pernyataannya di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323).

Yang benar adalah bahwa seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmat, ampunan dan kesempatan untuk terbebas dari api neraka tanpa ada pengelompokan di sepuluh awal, pertengahan dan akhir, ini sesuai dengan hadis shahih yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim. “Orang yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (HR. Bukhari no.38, Muslim no. 760)



Hadis Berpuasa Akan Sehat

صُوْمُوْا تًصِحُّوْا

“Berpuasalah maka kamu sekalian sehat.”

Hadis tersebut merupakan potongan dari Hadis riwayat Ibnu Adi di dalam al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta, sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam al-Ausath (1/Q, 69/ al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Na’im di dalam ath-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abi Hurairah. Sanadnya dha’if (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah SAW, hal. 84). Sebagian pendapat mengatkan bahwa ucapan ini terdapat pada kitab Al-Rahmah fi Al-Tibb wa Al-Hikmah, karya Imam Al-Suyuti. Ternyata ucapan ini bukanlah hadis melainkan perkataan seorang dokter dari Sudan yang meneliti bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh jadi pernyataan ini tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.



Hadis Meninggalkan Puasa tanpa Alasan



مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَمْ يَقْضِهِ وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal dia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al-’Ilal Al-Kabir (116), oleh Abu Daud di dalam Sunan-nya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di dalam Al-Mughni (4/367), Ad-Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al-Baihaqi di Sunan-nya (4/228).

Hadis ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al-Muhalla (6/183), Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/173), juga oleh Al-Albani di Dhaif At-Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al-Jami’ (5462) dan Silsilah Adh-Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan Hadis ini seperti Abu Hatim Ar-Razi di Al-Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al-Haitsami di Majma’ Az-Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i, ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)



Hadis Tidurnya Orang Puasa

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ



“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

Riwayat lain menyebutkan:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan dan amalannya pun dilipatgandakan pahalanya”.



Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di Su’abul Iman (3/1437). Hadis ini dho’if sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Takhrijul-Ihya (1/310). Albani juga mendha’ifkan hadis ini dalam Silsilah Ad-Dha’ifah (4696)

Hadis ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja. Bahkan barangkali karenanya, shalat lima waktu ada yang bolong padahal kualitas hadis ini adalah dha’if (lemah). Hadis tersebut disebutkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir, riwayat Ad-Dailamy di dalam Musnad Al-Firdaus dari Anas. Imam Al-Manawy memberikan komentar dengan ucapannya, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya Adh-Dhu’afa, Ibnu ‘Ady berkata, “(Dia) termasuk orang yang suka memalsukan Hadis.” Menurut Syaikh Al-Albany, hadis ini ada pada riwayat yang lain tanpa periwayat tersebut sehingga dengan demikian, hadis ini bisa terselamatkan dari status maudlû’ (palsu), tetapi tetap dha’if. Syaikh Al-Albani juga menyebutkan bahwa Abdullah bin Ahmad di dalam kitabnya Zawa’id Az-Zuhd, hal. 303 meriwayatkan hadis tersebut dari ucapan Abi Al-’Aliyah secara mauquf dengan tambahan: “Selama dia tidak menggunjing/ghibah.” Dan sanad yang satu ini adalah shahih, barangkali inilah asal hadis. Ia mauqûf (yaitu hadis yang hanya diriwayatkan oleh shahabat atau tabi’in) lantas sebagian periwayat yang lemah keliru dengan menjadikannya marfû’ (hadis yang sampai kepada Rasulullah). (Silsilah al-AHadis adl-Dloifah wa al-Maudlu’ah, Jld. II, karya Syaikh Al-Albany, no. 653, hal. 106).

Yang benar adalah bahwa tidur itu adalah perkara mubah (boleh) bukan ritual ibadah jadi sebagaimana perkara mubah yang lainnya, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah seperti tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya atau tidur guna mengistirahatkan tubuh agar lebih fit dalam beribadah. Semoga dengan penjelasan ini kita lebih berhati-hati di dalam menyaring hadis yang berkembang dan beredar di sekitar kita, dengan menyikapinya secara kritis dan bertanya tentang kualitasnya bilamana ragu untuk mengamalkannya.



Hadis Ibadah Ramadhan tergantung Zakat Fitrah



أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُتَعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

“Ibadah bulan Ramadhan tergantung di antara langit dan bumi. Tidak diangkat kepada Allah kecuali zakat fithri.” (HR. Al-Dhiyah).

Di dalam hadis ini terdapat perawi yang tidak diketahui kualitasnya, yaitu Muhammad bin ‘Ubayd Al-Bashri. Hadis ini oleh disebukan oleh Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib (2/157). Al Albani mendha’ifkan hadis ini dalam Dha’if At-Targhib (664). Hadis ini disebutkan oleh Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib (2/157). Al-Albani mendhaifkan hadis ini dalam Dhaif At-Targhib (664), dan Silsilah Ahadis Dhaifah (43).

Yang benar, jika dari hadis ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri. Keyakinan ini salah, karena hadisnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.



Hadis Lima Hal yang Membatalkan Puasa



خَمْسٌ تُفْطِرُ الصَّائِمَ ، وَتُنْقِضُ الْوُضُوْءَ : اَلْكَذِبُ، وَالْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالنَّظْرُ بِالشَّهْوَةِ، وَالْيَمِيْنُ الْفَاجِرَةُ



“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Jauraqani di dalam Al-Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at (1131). Hadis ini adalah hadis palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhû’at (1131), Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhâ’ifah (1708). Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadis: “Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057).



Hadis tentang Jihad Besar



رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ . قَالُوا : وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ؟ قًالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ

“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”

Menurut Al-Hafidz Al-Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6), hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Kuna. Hadis ini adalah hadis palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al-Mulla Ali Al Qari dalam Al-Asrar Al Marfu’ah (211). Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah (2460) mengatakan hadis ini munkar. Hadis ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadis ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama Hadis yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari Hadis palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.



Hadis Ramadhan Bulan Umat Islam



رَجَبُ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي



“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy-Syuyûkh (1/186). Hadis ini didhaifkan oleh di Asy-Syaukani di Nailul Authâr (4/334), dan Al-Albani di Silsilah Adh-Dhaifah (4400). Bahkan Hadis ini dikatakan hadis palsu oleh banyak ulama seperti Adz-Dzahabi di Tartibul Maudhû’at (162, 183), Ash-Shaghani dalam Al-Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al-Manarul Munif (76), Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).

***

Inilah sebagian di antara hadis-hadis palsu dan lemah yang berkaitan dengan Ramadhan. Setelah mengetahui kualitas hadis ini mungkin sebagian kita jadi ragu dan bertanya-tanya kenapa muncul hadis maudhû’ apa tujuannya dan apa ciri-ciri umum dari hadis maudhû’ itu, maka sebagai penutup tulisan dalam edisi ini akan kita secara umum sebab munculnya hadis maudhû’, tujuan, dan ciri-cirinya.

Walaupun hadis mempunyai fungsi dan kedudukan yang besar sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an, namun sebagaimana telah disebutkan bahwa hadis pada awal Islam tidak ditulis secara resmi sebagaimana Al-Qur’an, kecuali penulisan-penulisan yang bersifat pribadi. Upaya penulisan resmi baru terlaksana pada masa khalifah Umar Ibn Abdul Aziz (abad kedua Hijriyah) melalui perintahnya kepada gubernur dan para ulama.

Kesenjangan waktu antara sepeninggal rasulullah dengan waktu pembukuan hadis yang hampir satu abad menjadi kesempatan bagi orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan pemalsuan hadis baik untuk tujuan yanng menurut mereka bersifat konstruktif (dengan tujuan meningkatkan kegiatan ibadah serta amal-amal lainnya) maupun yang destruktif (yang sengaja untuk mengaburkan dan menodai ajaran) dengan mengatasnamakan Rasulullah, padahal beliau tidak pernah mengatakan atau melakukannya.

Beberapa faktor pendorong yang menyebabkan orang membuat hadis palsu antara lain: keinginan melemahkan Islam dari dalam seperti yang dilakukan oleh golongan zindiq, kepentingan politik tertentu, mendukung aliran-aliran dalam ushul ad-din, kebingungan yang dialami oleh kalangan ahli tasawuf mendekatkan diri kepada Allah secara berlebih-lebihan, menjilat atau mencari muka kepada penguasa, semata-mata untuk memuaskan nafsu, dan kesenangan pribadinya, gejala linglung pada usia lanjut, dan karena untuk memikat orang-orang agar terrtarik kepada nasehat-nasehatnya.

Adapun ciri-ciri hadis maudhu’ secara umum adalah: makna atau lafaznya rusak (rakakah), matannya (kandungan/isi hadis) bertentangan dengan akal sehat, matannya bertentangan dengan Al-Qur’an, hadis mutawatir, dan hadis shahih serta hal-hal yang mudah dipahami dalam agama. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil, perawinya dikenal sebagai orang pendusta dan hadis yang diriwayatkan tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang terpercaya.



Rasul Karim

(Alumni Jurusan Tafsir Hadis UIN Jakarta)

read more

Senin, 03 Mei 2010

Tekanan Jiwa (stres) dan Terapi Islami

Senin, 03 Mei 2010 | 7 komentar
Prof. Dr.Falih bin Muhammad As-Shaghir

Pendahuluan:

Kehidupan Manusia di masa lalu relatif stabil. Ketenangan adalah keseharian dalam mayoritas kehidupan mereka karena minimnya faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan ketika itu.

- Tanggung jawab yang ditanggung ketika itu belum mengacaukan pikiran atau mempengaruhi aktivitasnya yang sederhana di perkebunan, rumah produksi atau di tempat perniagaan.

- Krisis kependudukan dan kemanusiaan ketika itu belum seperti keadaannya yang sekarang, di mana realita memaksa manusia menggunakan pola baru dalam berinteraksi dan memikul tanggung jawab.

- Rumah hunian dan perabotannya tidaklah seperti sekarang yang menghimpit, di mana sebagiannya bertumpuk dengan sebagian yang lain. Sebagaimana kondisi yang ada dibanyak negara di dunia.

- Bahkan musibah yang menimpa manusia belumlah sehebat dan sedahsyat sekarang ini. Penyakit ketika itu belum lagi sekomplek dan dengan nama yang beraneka macam, yang menghantui manusia dan mengganggu kehidupannya, yang menjadikannya dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan, seiring lambatnya ditemukan obat penawarnya.

- Ketika itu peperangan tidak dapat membunuh ribuan manusia dalam waktu sekejap, sebagaimana teknologi dan instrumen perang yang ada seperti sekarang ini.

- Belum ada kejadian yang menelan korban mengerikan akibat kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, air atau alat transportasi lain ketika itu.

- Dan di atas semua itu, krisis keuangan dan ekonomi membatasi manusia dan membalikkan keadaan berbagai umat dan bangsa dari kenikmatan dan kemewahan menjadi terpuruk dalam kefakiran dan kekurangan.

Serta perkara-perkara lain dari perubahan-perubahan, halangan-halangan dan problem yang berdampak negatif pada kehidupan manusia, yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan dan kekuatan potensialnya.

Itu artinya bahwa kemajuan teknologi yang disaksikan oleh dunia dan banyak berperan dalam memfasilitasi manusia, pada waktu yang sama justru memberatkan manusia itu sendiri dengan lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang menyedot umur dan waktu mereka. Bahkan tak jarang datang bertubi-tubi sehingga tidak sanggup menghadapinya atau menyerah karena kontinuitasnya.

Dari sinilah mulai muncul tekanan kejiwaan (stres): yang berwujud pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan atau memikul tanggung jawab yang sebenarnya terfasilitasi dan memiliki kemungkinan yang terbuka.

Dampak Stress (Tekanan Jiwa)

Sesungguhnya stres pada banyak keadaan menyebabkan penderitanya tidak stabil, yang pada akhirnya memunculkan dampak dan efek negatif dalam kehidupan dan pergaulannya. Di antara dampak yang terpenting adalah:

1. Ada kalanya stres pada penderitanya melahirkan semacam prilaku kasar, keradikalan, kemarahan akan realita dan melihatnya dengan gelap mata. Ia berharap dapat keluar dari permasalahannya dan terkurangi tanggung jawabnya. Akan lebih parah jika tidak ada pendampingan yang dapat mengurangi sebagian beban dan kepedihannya.

2. Stres menyebabkan menarik diri dan menjauh dari kehidupan, menjauh dari kenyataan, bahkan menjadikan penderitanya tenggelam dalam dunia khayal, terkendala dalam metode berpikir dan mencari solusi. Engkau dapati ia mendebat perkara dengan solusi filosofis yang rumit atau penafsiran yang ganjil yang tidak diterima oleh para pemikir dan orang kebanyakan.

3. Tekanan jiwa mempengaruhi dalam bergaul dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan mereka. Dimana penderita tekanan jiwa akan sulit membangun hubungan dalam bertetangga, persahabatan dengan teman kerjanya, atau dengan siswa lain jika itu di sekolah, dengan orang banyak jika dia seorang pegawai, dengan para pegawai jika dia seorang kepala bagian atau direktur, juga dengan seluruh strata masyarakat di lingkungannya. Ia merupakan ancaman dalam membangun masyarakat, kepribadian dan lembaga sosial yang lebih maju, meningkat dan mumpuni.

4. Stres (tekanan jiwa) memiliki pengaruh yang besar pada anggota tubuh penderita. Penyakit yang di derita kebanyakannya adalah cerminan dari hakikat kondisi kejiwaan yang tengah dialami penderita. Karenanya para dokter menyarankan pasiennya untuk menjauhi hal-hal yang menimbulkan gejolak kejiwaan. Terutama mereka yang terkena liver, gangguan jiwa, kolesterol, gangguan lambung, usus dan lain sebagainya. Karena kejiwaan memiliki peran yang penting dalam mengontrol penyakit-penyakit tersebut, baik dalam penyembuhan atau dalam memperburuk dan membuatnya semakin parah.

5. Stres (tekanan jiwa) berpengaruh negatif dalam produktivitas kerja dan kreasi. Karena penderitanya kehilangan penyelaras dalam berinteraksi dengan berbagai hal. Buyar kekuatan dan kemampuan. Terlebih lagi tidak dapat konsekuen dalam mencapai tujuan dan mencapai target.

Obat Stres (Tekanan Jiwa)

Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:

1- Bertakwa kepada Allah I dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal saleh. Firman-Nya I:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Thalaq: 2 )

Dan firman-Nya :

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah I telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah I. Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah I.

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Karena dua hal ini dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153 )

Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah t berkata, “Jika Nabi r menghadapi perkara pelik, beliau melaksanakan shalat.” [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah I. Sadarilah bahwa Allah sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan solusi dan kemudahan. Allah I berfirman melalui lisan Nabi Ya’kub u:

“…Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87 )

Nabi r bersabda dalam hadits Qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِيْ بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Sesungguhnya Allah r berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”

[HR.Turmudzi]

Benarlah perkataan seorang penyair:

Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya

Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan dan amal merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah :

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.Ar-Ro’d:28)

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah). Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana, menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda Rasulullah r,

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan.”

[HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan. Hal ini sebagaimana hadits Abu Sa’id al-Khudri t:

“Pada suatu hari Rasulullah r masuk masjid. Beliau mendapati seorang lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,

“Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid melainkan sedang shalat.”

“Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah.” Jawabnya.

“Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!” Tawar Rasulullah.

“Tentu wahai Rasulullah!” Jawab lelaki itu.

“Bacalah ketika pagi dan petang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

[ Allahumma Inni A'ûdzubika minalhammi walhazan wa a'ûdzubika minal'ajzi walkasal, wa a'ûdzubika minaljubni walbukhl, wa a'ûdzubika min ghalabatiddaini wa qohril rijal ]

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan penindasan orang.”

[HR.Abu Dawud]

Di antara doa Nabi Musa u kepada Allah agar dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah I melalui lisan Nabinya:

“Musa berkata: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.”

(QS.Thâhâ:25-26)

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam kehidupan lalu bertawakal kepada Allah I. Meminta kepada-Nya agar dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan efek negatif yang ditimbulkannya. Allah I berfirman,

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq: 3 )

Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa atau selain mereka. Terkadang keadaan seseorang terasa begitu menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka cercahan cahaya dengan izin Allah.

Ringkas pembicaraan:

Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal tangannya sendiri.

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imrah: 182 )

Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya. Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta angan-angannya.

Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan pusat-pusat pendidikan.

Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah I dan dapat merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi, juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan kesuksesan.

Sumber asli: الضغوط النفسية

abuabdurrahman.com


read more

Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Smart, happy

Saca Firmansyah

Wilayah Pengunjung