Jumat, 26 Maret 2010

PERKEMBANGAN ISLAM ASIA TENGGARA

Jumat, 26 Maret 2010 |
PERKEMBANGAN ISLAM ASIA TENGGARA

Pendahuluan

George Coedes dianggap sebagai le doyen dari studi sejarah kuno Asia Tenggara. Arkeolog Prancis inilah yang menemukan kembali (1913) kemaharajaan Sriwijaya, setelah sekian abad terlupakan dalam sejarah. Coedes juga salah seorang pendekar utama dalam menemukan berbagai aspek dari sejarah purbakala di daratan (mainland) Asia Tenggara. Harry Benda yang semasa hidupnya adalah Guru Besar Sejarah Asia Tenggara di Yale University, mencoba menemukan ”struktur sejara Asia Tenggara”, dengan mencara landasan yang paling awal dari dinamika sejarah. Benda pun tampil dengan gagasan untuk membagi Asia Tenggara atas tiga wilayah kultural, yang sekaligus bisa dilihat pula sebagai landasan kultural dari dinamika sejarah, ia berkesimpulan bahwa sebagian besar dari kawasan ini boleh disebut sebagai Indianized Sotheast Asia, Asia Tenggara yang telah di-India-kan seperti Indonesia. Daerah kedua ialah Sinicized Sootheast Asia, yang telah ”di-Cina-kan”, yang dimaksud ialah Vetnam atau orang-orang Vetnam. Dan yang ketiga, Hispanized Southeast Asia, yang di-Spanyol-kan yaitu Filipina.
Sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah pengamat dunia Islam atau islamicist di luar negeri memberikan analisis dan komnetar yang positif tentang perkembangan Islam di Asia Tenggara, Khususnya Indonesia dan Malaysia. Karakter terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya, watak yang lebih damai, ramah, dan toleran. Watak Islam seperti ini diakui banyak pengamat atau orentalis di masa lalu. Di antaranya, Thomas W. Arnold, dengan buku klasiknya, The Preaching of Islam (1950) yang menyimpulkan bahwa penyebaran dan perkembangan history Islam di Asia Tenggara berlansung secara damai; dalam istilah Arnold disebut sebagai penetration pacifigure. Penyebaran Islam secara damai di Asia Tenggara berbeda dengan ekspansi Islam di banyak wilayah Timu Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang oleh sumber-sumber Islam di Timur Tengah disebut fath, yakni pembebasan, yang sering melibatkan kekuatan militer. Meskipun futuh di kawasan-kawasan yang disebutkan terakhir ini tidak selamanya berupa pemaksaan penduduk setempat untuk memeluk Islam, akhirnya wilayah-wilayah ini mengalami ”Arabisasi” yang lebih intens. Sebaliknya, penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak pernah disebut sebagai futuh yang disertai kehadiran kekuatan militer Muslim dari luar. Hasilnya, Asia Tenggara sering disebut sebagai wilayah Muslim yang the last Aribicized paling kurang mengalami “Arabisasi”.

ISLAMISASI ASIA TENGGARA

Sejarah Islam di Asia Tenggara, khususnya pada masa awal, luar biasa galau dan rumitnya. Kegalauan dan kerumitan ini bukan hanya disebabkan oleh kompleksitas di sekitar sosok Islam itu sendiri sebagaimana direfleksikan oleh kaum Muslimin di kawasan ini, baik melalui histiografi maupun dlam praktek kehidupan sehari-hari, melainkan juga karena pengkajian-pengkajian sejarah Islam dengan berbagai aspeknya si AsiaTenggara.
Penetrasi Islam di Asia Tenggara secara kasar dapat ke dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan kedatangan Islam yang kemudian di ikuti dengan kemerosotan, akhirnya keruntuhan kerajaan Majapahit pada kurun abad ke-14 dan ke-15. tahap kedua sejak datang dan mapannya kekuasaan kolonialis Belanda di Indonesia, Inggris di semananjung Malaya dan Spanyol di Filipina sampai awal abad ke-19.sedangkan tahap ketiga bermula pada awal abad ke-20 dengan terjadinya liberalisasi kebijaksanaan pemerintah kolonial, terutama Belanda di Indonesia. Dalam tahap-tahap ini proses islamisasi Asia Tenggara sampai mencapai tingkat seperti sekarang.
Dalam tahap pertama penetrasi Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, islm mulai menempuh jalannya memasuki wilayah-wilayah pesisir lainnya dan pedesaan. Islam dalam tahap ini sangat diwarnai aspek tasawuf atau mistik ajaran Islam, meski tidak berarti aspek hukum terabaikan sama sekali. Hal ini karena islam tasawuf yang datang ke Nusantara, dengan segala pemahaman dan penafsiran mistisnya terhadap Islam, dalam beberapa segi tertentu cocok dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi aksetisme hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokal. Pada tahap pertama ini, islam tidak lansung secara merata diterima oleh lapisan terbawah masyarakat.
Pada abad ke-18 lembaga-lembaga Islam yang vital seperti meunasah di Aceh, surau di Minangkabau dan Semenanjung Malaya, pesantren di Jawa dan lembaga-lembaga semacamnya mulai mapan, meskipun kebanyakan masih tetap merupakankubu-kubu terkuat tasawuf. Dan lembaga-lembaga Islam semacam ini telah tumbuh menjadi institusi aupra-desa, yang mengatasi kepemimpinan kesukuan, sistem adat tertentu, kedaerahan dan lainnya. Secara alamiah mereka tumbuh menjadi lembaga-lembaga islam yang Universal, yang menerima guru dan murid tanpa memandang latar belakang suku, daerah dan semacamnya, sehingga mereka mampu membentuk jaringan kepemimpinan intelektual dan praxis keagamaan dalam berbagai tingkatan.
Proses islamisasi dan intensifikasi kesadaran keislaman yang tidak dapat dimundurkan itu semakin menemukan momentumnya, berbagai ahli telah mencoba menjelaskan mengapa Islam mampu hadir sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Nusantara dengan mengemukakan berbagai teori. Sebagian ahli menyatakan bahwa para pedagang Muslim yang datang ke Asia Tenggara memperkanalkan Islam guna mendapatkan keunggulan ekonomi dan politik di kalangan masyarakat pribumi. Sejajar dengan teori di atas ialah adanya anggapan bahwa kehadiran kolonial justru yang meransang terjadinya proses islamisasi dan intensifikasi di kawasan ini. Identifikasi kolonial sebagai penjajah kafir membuka jalan lebih hebat bagi Islam untuk secara tegar tampil sebagai satu-satunya wadah yang mampu memberikan identitas diri dan menjadi faktor integratif masyarakat pribumi yang terbelah oleh berbagai faktor sosial dan kultur itu dalam menghadapi pembatasan yang dilakukan kolonial. Tindakan kekerasan atau berbagai pembatasan yang dilakukan oleh kolonialis, diluar harapan mereka, justru mempercapat proses kristalisasi kehadiran Islam sebagai simbol perlawanan, atau seperti kata Legge, sebagai ”mekanisme pertahanan diri” (defence mechanisme) penduduk lokal dalam menghadapi penindasan para penjajah.
PERADABAN ISLAM DI ASIA TENGGARA

Perbincangan tentang kompatibilitas atau sebaliknya inkompatibilitas kebudayaan atau lebih luas, peradaban Islam dengan tantangan dunia modern-indutrial telah banyak dibicarakan orang. Kaum modernis Muslim, dengan berbagai bentuk ramifikasinya beragumen dengan cukup kuat bahwa terdapat kompatibilitas yang tingi antara Islam dan ”Islamicate” – meminjam istilah Hodgson – dengan dunia modern-industrial.
Posisi peradaban Islam vis-a-vis dunia saintifik-teknologikal dan industrial dewasa ini memang cukup problematik. Mengikuti argumen Gellner, dari empat peradaban tulis dunia, kelihatannya hanya Islam yang dapat mempetahankan keimanan pra-industrialnya. Keimanan Kristen telah ditafsir ulang bahkan ”diobrak-abrik” unuk disesuaikan dengan perkembangan saintifik-teknologikal dan industrial.
Kemunculan dan perkembangan Islam di Dunia indo-Melayu menimbukan transformasi kebudayaan-peradaban lokal. Menurut grunnebaum transformasi kebudayaan-peradaban Indo-Melayu itu dalam banyak hala hampir sama dengan konversi masyarakat Arab ke dalam Islam. Mengunakan istilah ”religious revolution” Reid menggambarkan terjadinya transformasi kebudayaan-peradaban di wilayah indo-Melayu dari sistem keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam, lengkap dengan berbagai bentuk pengejawantahan kebudayaan-peradabannya. Konversi massal masyarakat Indo-Melayu kepada Islam terjadi berbarengan dengan apa yang disebut oleh Reid sebagai ”masa perdgangan” (the age of commerce), masa ketika Asia Tenggara mengalami ”trade boom” karena meningkatnya posisi Nusantara dalam perdagangan Timur-Barat. Kota-kota di wilayah pesisir muncul dan berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan, kekayaan, dan kekuasaan.
Kebudayaan-peradaban Islam di dunia indo-Melayu, dibangun berdasarkan beberapa perkembangan historis penting, yang mencakup karakteristik, seperti kosmopolitanisme, apreasiasi terhadap kekayaan, kekuasaan, literasi, dan inklusivisme neosufisme. Semua karakteristik ini lebih banyak kaitannya dengan high Islam dari pada low Islam. Jika karakteristik ini dikembangkan kembali dunia Indo-Melayu dapat membangun peradaban saintifik – teknologikal dan industrial serta survive di tengah pertarungan global yang kina keras dn kompetitif di masa sekarang dan mendatang.





Reference:
Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, Bandung: CV Rosada, 1987
Azyumardi Azra, Prof. DR. Renaisans Islam Asia Tenggara, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Mei 2000, cet. Ke-2
Hamka, Sejarah Umat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, cet. Ke-3
Wilfred canwell Smith, Islam dalam Sejarah Modern, terj. Abusalamah, New York: Yayasan Perbitan Frankling Jakarta.

PERKEMBANGAN ISLAM ASIA TENGGARA
Makalah ini di presentasikan pada mata kuliah Sejarah Peradaban Islam




















Di susun oleh
Rasul Karim
202034001170







JURUSAN TAFSIR HADIST
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2007


Related Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Smart, happy

Saca Firmansyah

Wilayah Pengunjung