Kamis, 17 Februari 2011

AUR SERUMPUN

Kamis, 17 Februari 2011 |
Kalimat atau kata Aur Serumpun bagi uda, uni dan teman-teman sekampung atau yang satu sekolah dengan saya di tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah atau mungkin juga bagi orang-orang yang berasal dari Batu Sangkar akan mengingatkan anda kepada sebuah bukit yang terletak didaerah Padang Lua, tempat dimana kita bisa menghirup udara yang segar, melihat keindahan danau Singkarak dan keelokan lukisan alam lainnya dari Sang Mahakarya, yang menjadi tempat rekreasi murah guna melepaskan lelah dari kesuntukan dan kejenuhan fikiran menjalani lika-liku kehidupan, saya sebut tempat rekreasi murah karena waktu saya sekolah Tsanawiyah dengan modal uang 300 – 500 perak dikantong dan berbekal nasi dengan lauk telur dan jengkol yang dibungkus dengan daun pisang, sudah cukup untuk berekreasi ke Aur Serumpun itu, karena menempuh tempat itu tidak perlu pake ongkos cukup dengan berjalan kaki hal ini tidak akan menjatuhkan harga diri dan juga tidak akan di cap atau dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kecukupan materi karena memang kebanyakan orang dari kampung saya menempuh tempat rekreasi ini dengan berjalan kaki, tidak akan ada pungutan karcis, dan tidak banyak juga pilihan belanja atau makanan yang akan membuat kantong terkikis habis, karena makanan yang dijual disekitar Aur Serumpun itu, air, es, bakwan, tahu, kerupuk dan snack lainnya.

Namun dalam note ini kita tidak akan membahas cerita dan kenangan yang pernah terukir di keindahan Aur Serumpun itu tapi kita akan coba melihat sisi lain dari Aur Serumpun yaitu filosofi dan pesan yang kandung dalam fenomena Aur Serumpun, seperti petuah orang Minang “alam takambang jadi guru” maka pada aur serumpun pun idealnya harus ada pelajaran yang bisa kita petik.

Sabtu sore saya ada janji dengan Ustadz Ade Novli seorang tokoh muda yang potensial yang telah mengkader saya menjadi aktifis dakwah ketika beliau menjabat sebagai ketua Majelis Tabligh dan Dakwh Khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, untuk pergi bersilaturrahim ke kantor uda Ismail Anas yang menjadi pengganti Ust Ade sebagai ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus setelah Ust Ade Novli mendapat amanah memimpin salah satu Sekolah Tinggi Muhammadiyah di Singapure, silaturrahim ini adalah untuk memperkuat kembali ukhwah yang sempat memudar karena terpisah oleh jarak dalam rentang waktu yang cukup lama.

Pukul tiga sore adalah waktu yang saya dan Ust Ade sepakati untuk ketemuan yang bertempat di daerah Lebak Bulus, kemudian kami berangkat bareng menuju kantor uda Ismail dengan mengendarai si kuda besi menerobos kemacetan lalu lintas, pukul empat kurang kami telah sampai dikantor da Ismail tapi sayangnya beliau belum juga sampai dikantornya karena beliau terjebak macet ketika mau balik kekantor setelah rapat dengan mitra kerjanya, setelah sholat Ashar berjamaah da Ismail belum juga datang, kemudian saya yang diiringi oleh ust Ade menuju ruangan Pak Anwar pendiri dan pimpinan Aur Serumpun yayasan pendidikan D1, dalam perbincangan kami inilah saya mendapatkan filosofi dari istilah Aur Serumpun itu, sekolah D1 yang dirikan oleh Dosen Pasca Sarjana Ibnu Khaldum ini tujuan utamanya adalah membantu orang Minang yang karena kekurangan dana tidak mampu melanjutkan pendidikannya, karena bagi orang Minang yang tidak mampu membayar uang kuliah akan beliau gratiskan biaya kuliah ditempat beliau ini.

Aur apabila tumbuh ditepi tebing maka tanah ditepi tebing itu akan menjadi kuat dan tidak akan mudah terkikis oleh longsor, maka kita juga harus bisa hidup seperti Aur itu kata Pak Anwar, dimana pun kita hidup sekuat tenaga dan sebisa mungkin kita perlu dan harus menolong saudara kita, saya kata beliau, karena berprofesi sebagai Dosen maka saya akan membantu saudara-saudara dan orang terdekat kita dengan pendidikan agar mereka memiliki modal yang cukup untuk bertarung mendapatkan pekerjaan yang layak karena kehidupan ini makin lama makin keras kalau kita tidak siap menghadapinya maka kehidupan ini akan menggilas kita.

Perbincangan kami ini mengingatkan saya akan kebenaran dari pernyataan dan pesan Rasulullah: Man Arada dunya fa ‘alaihi bi ‘ilmi wa man arada akhirah fa ‘alaihi bi ‘ilmi. yang artinya: siapa yang ingin mendapatkan kesenangan di dunia maka syaratnya harus memiliki ilmunya, siapa yang ingin mendapatkan kesenangan di akhirat mesti dengan ilmu juga. Kalua tidak memiliki ilmu atau keahlian maka hidup kita akan susah dan kita tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup ini.

Sekarang pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah sudahkan kita menjadi aur?, memberikan manfaat untuk membantu saudara-saudara kita, kalau belum maka sudah saatnya kita memulai untuk menyebarkan virus-virus kepedulian dan menebarkan benih-benih kebaikan untuk memperbesar rumpun aur kehidupan karena setiap kebaikan yang kita berikan dengan penuh keikhlasan pasti akan kembali lagi kepada kita, dan juga sudah saat kita melakukan anti sipasi dini terhadap peringatan Allah dalam surat An-Nisaa’ ayat 9. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Dengan memulai gerakan menebar benih-benih kebaikan, mempertautkan tali persaudaraan, dan melakukan pengkaderan maka lahirnya generasi-generasi kuat yang siap menaklukkan tantangan kehidupan Insyaallah akan bisa terwujudkan.

Salam sukses untuk niat dan upaya bagi penyebaran virus-virus kebaikan…


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar


Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Smart, happy

Saca Firmansyah

Wilayah Pengunjung