Kamis, 17 Februari 2011

Menuju Pembusukan

Kamis, 17 Februari 2011 |
Sabtu siang sesuai dengan rencana sebelumnya aku ada janji ketemuan dengan seseorang maka saat siang menjelang aku hubungi dia untuk konfirmasi, namun sayangnya kondisi fisik dia sedang tidak bagus dan karena tak ingin memperburuk kondisi fisiknya maka pertemuan pun di undur sampai waktu yang tidak ditetapkan, jadi agenda weekend yang tinggal untuk dilaksanakan adalah agenda rutin anak bujangan yaitu cuci pakaian dan bersih-bersih kontrakan sekitar jam satuan semua pekerjaan telah selesai dilaksanakan, kemudian ku pacu si kuda besi menuju kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah.

Sesampai di kantor segera ku buka notebook dan kemudian membuka facebook ada beberapa pesan dan komentar terdapat dalam note DZIKIR ADALAH KUNCI KEBAHAGIAN yang kemarin aku buat, salah satunya dari uda Arlen Jello yang bertanya, betulkah usaha/kerja bagian daripada zikir? Setelah membaca pertanyaan tersebut saya teringat dengan beberapa point yang keluar dari Rapat yang berujung diskusi pada Jumat malam tgl 21 Januari 2011.

Berawal dari chatting melalui facebook dengan Ridho teman seperjuangan, beliau mencurahkan kegelisahan dan kesulitan dakwah yang dia hadapi ketika berhadapan dengan misionaris, setelah terlibat diskusi singkat saya mengajak beliau untuk membicarakan masalah ini melalui rapat bersama Buya Risman, saya, dia, dan Firman pada Jumat malam tanggal 21 Januari 2011, dan hari yang disepakati untuk rapat itu telah tiba, setelah sholat maghrib berjamaan rapat pun kami mulai, seperti biasanya dalam setiap pembicaraan baik itu formal dalam rapat atau ketika sedang bercanda bersama Buya Risman selalu ada kata-kata atau kalimat yang menggelitik yang pada ujungnya akan dikaitkan dengan ayat-ayat al-Qur’an keluar dari mulut beliau, salah satunya adalah “ Semuanya Menuju Pembusukan”, yang beliau maksud adalah menghabiskan waktu mencari uang hanya untuk dimakan, berarti menuju pembusukan karena makanan itu akan busuk melalui kotoran yang kita buang.

Pernyataan Buya Risman itu saya gali dan perluas lagi melalui note yang saya beri judul “Menuju Pembusukan”, dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa; Tidak Ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah dan menghambakan diri padaKU” dalam ayat lain disebutkan “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” dari dua ayat ini sudah jelas tujuan hidup kita yaitu Mengabdi kepada Allah dengan menjadi khalifah dimuka bumi ini, khalifah secara bahasa berarti pengganti/wakil, khalifah dimuka bumi berarti pengganti/wakil Allah sebagai pengganti/wakil maka tindak perilaku kita harus sesuai dengan aturan yang diberikan oleh yang kita wakili/gantikan dalam hal ini adalah aturan Allah, oleh karena itu maka idealnya dalam kehidupan ini waktu dan amal perbuatan kita tidak lepas dari unsur pengabdian kepada Allah dan peran ke khalifahan yang diberikan oleh Allah, tetapi kenyataan dalam hidup ini kita sering tertipu oleh keindahan dunia yang sesaat, godaan dan tipu muslihat setan yang menyesatkan, sehingga waktu dan energi kita habis untuk hal-hal yang menuju pembusukan.

Dalam petuah orang Minang disebutkan tiga hal yang perlu kita siapkan
1.Untuak nan ka busuak (untuk hal-hal yang akan busuk) maksudnya makanan yang kita makan
2.Untuak nan kalapuak (untuk hal-hal yang akan lusuh atau habis/hancur dimakan waktu) maksudnya pakaian, rumah, kendaraan dll
3.Untuak isuak (bekal untuk hari akhir) pahala dan amal kebaikan

Tetapi sayangnya kita terlalu banyak menghabiskan waktu kita di dunia ini untuk hal-hal nan ka busuak dan hal-hal nan kalapuak dan melupakan bekal untuk isuak (akhirat) padahal Allah telah mengatakan wal akhiratu khairu wa abqaa (kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal) kahidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan di dunia ini karena kebahagian di akhirat adalah kebahagian yang hakiki dan abadi sementara kebahagian di dunia ini hanyalah kebahagiaan sesaat dan terbatas, betapa meruginya kita kalau waktu dan hidup kita habis untuk mencari kebahagian yang sesaat dan terbatas di dunia ini kemudian di akhirat kita mendapatkan penderitaan tak berujung.

Pertanyaan yang muncul dari fikiran kita, apakah salah kalau waktu kita banyak habis untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti untuk makan, pakaian, kendaraan, dan rumah untuk tempat tinggal guna membahagiakan keluarga? Maka saya akan menjawab bisa salah dan bisa juga tidak, akan salah kalau waktu kita habis untuk menumpuk-numpuk harta dan menjadi matrealis dengan menjadikan materi ukuran kemuliaan, kehormatan dan kemudian menjadi budak harta, jabatan dan kekuasaan yang dalam bahasa Prof. Din Syamsudin disebut dengan Syirik-syirik Sosial. Islam telah membimbing kita supaya tidak terjebak dalam kesalahan itu dengan cara memasang niat yang baik dan ikhlas dalam bekerja, kemudian bekerja dengan cara yang baik juga, seperti yang digambarkan melalui ayat al-Qur’an, Li Zakati Faa’ilun (orang-orang yang guna untuk bisa berzakat mereka berusaha) jadi kita bekerja dan berusaha dengan niat dan tujuan agar kita bisa berzakat.

Kesimpulan dari note ini, Pertama, jangan sampai hidup kita habis hanya untuk hal-hal yang menuju pada pembusukan. Kedua, mari kita hidup dengan cara yang cerdas yaitu dengan mengikuti aturan dan tuntunan yang diajarkan oleh Islam dengan menjadikan kerja dan usaha sebagai ibadah yaitu dengan jalan dengan mencari rizki yang halal yang disertai dengan niat untuk bisa berzakat dan bersedakah. Ketiga, jauhkan diri kita dari syirik-syirik sosial (mengagung-agungkan kekuasaan, jabatan, dan diperbudak oleh harta kekayaan). Keempat mari kita jadikan kehidupan dunia ini sebagai bekal untuk mendapatkan kebahagian yang hakiki di akhirat karena Allah telah meletakkan kebaikan disetiap waktu, disetiap sisi yang ada dunia ini, yang bisa mengantarkan kita menuju kebahagian yang hakiki itu.


NB
• Note ini tidak bermaksud untuk menggurui dan mencela siapa pun, tujuan utamanya adalah untuk intropeksi dan mengkritik diri saya sendiri, kalau tulisan ini bermanfaat bagi yang ditemui atau menemukan tulisan ini itu adalah hidayah dan anugrah dari Allah.
• Note ini bisa cepat selesai karena ada hikmah dari pembatalan janji ketemuan dengan seseorang karena dia kurang sehat, Subhanallah dalam kondisi apa pun ada kebaikan yang diberikan oleh Allah, doa saya semoga Allah mengangkat penyakitnya dan kembali seperti sedia kala.
• Terima kasih kepada Buya Risman dan Uda Arlen karena pernyataan dan komentarnya telah menginspirasi terwujudnya tulisan ini.


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar


Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Smart, happy

Saca Firmansyah

Wilayah Pengunjung